Banjir Bandang, Pembalakan Liar, Dan Pentingnya Uluran Tangan Untuk Luwu Utara

0
45
views
Aliansi Mapala Sulsel saat mengevakuasi mayat yang tertimbun lumpur.

apakabarkampus.com – Banjir Bandang yang menimpa Luwu Utara hingga saat ini masih menyimpan luka.

Diketahui korban menurut data yang dihimpun oleh BNPB per 18 Juli 2020 yang dituturkan langsung oleh Wisnu Widjaja selaku Deputi Bidang Sistem dan Strategi dalam konferensi pers virtual, bahwa korban terdampak sebanyak 14.483 jiwa, Minggu (19/07/2020).

Dari penuturan Wisnu, detail korban Telah tercatat yang meninggal dunia sebanyak 36 jiwa, 40 dikategorikan hilang, 58 menderita luka, dan terdapat 3.627 KK atau 14.483 jiwa yang mengalami trauma atau terdampak.

Hingga saat ini, diketahui bahwa terdapat 9 sekolah, 13 rumah ibadah, tiga unit fasilitas kesehatan, dan 8 kantor pemerintahan yang dirusak oleh banjir bandang tersebut.

Termasuk 12,8 kilometer jalan, 9 jembatan, 100 meter pipa penyuplai air bersih 2 bendungan irigasi 1 pasar tradisional yang dirusak parah.

Kemudian akses jalan poroso Masamba-Baebunta, Sabbang menuju Desa Malimbu saat ini masih belum dapat dilewati oleh semua jenis kendaraan karena masih tertimbun lumpur dan hanya bisa diakses dengan kendaraan roda 2.

Dari penjelasan Wisnu, bahwa pengungsian terdapat 76 titik di Luwu Utara saat ini.

“Terdapat 76 titik pengungsi tersebar di 3 kecamatan yaitu, Kecamatan Sabbang, Baibuntah, dan Masamba,” Pungkasnya.

Kemudian di lokasi bencana, menurut penuturan Ghalib, salah seorang relawan Tim Evakuasi yang tergabung dalam Mapala Sulsel setelah mewawancarai salah seorang warga yang tidak mau disebut namanya, menduga kuat bahwa terjadinya longsor yang berakhir banjir bandang itu penyebabnya adalah pembalakan liar.

“Jadi kronologisnya banjir pertama di Masamba itu tanggal (13/07/2020) pukul 20:00, di saat bersamaan warga Desa Radda datang ke lokasi banjir di Masamba untuk melihat situasi di sana, sementara sebagian warga Radda yang ke Masamba tidak mengetahui banjir bandang yang bersamaan terjadi di Radda Luwu Utara,” tutur warga yang diwawancarai Ghalib, Minggu (19/07/2020).

Lebih lanjut, bahwa warga di Radda masih berupaya untuk mendesak pemerintah setempat untuk mengusut pembalakan liar tersebut.

“Sementara warga di sini terus mendesak pemerintah setempat yang membiarkan penebangan pohon yang berakibat terjadi longsor sehingga air tertampung dan terjadi banjir bandang,” ungkapnya.

Sementara itu, para Mapala Sulsel yang ada di sana masih berupaya untuk membuka jalur.

“Jadi kondisi sekarang di lokasi, kami masih membuka jalur untuk menuju setiap posko, dan kurangnya alat berat sehingga menyulitkan kami langsung ke titik pengevakuasian karena lumpurnya masih basah dan dalam,” ujar Ghalib saat dihubungi via Whatsapp, Minggu (19/07/2020).

Menurut warga setempat, kata Ghalib, masih banyak mayat yang belum ditemukan tertimbun oleh lumpur, karena banyaknya rumah yang hilang dan rata dengan lumpur.

“Maka untuk para pembaca yang budiman, semoga bisa turut serta mengulurkan tangannya serta mengajak orang terdekat untuk ikut memberikan bantuan kepada saudara kita di Luwu Utara. Terkhusus jika ada yang menyumbang, jangan lupa pakaian dalam yang masih baru juga sangat dibutuhkan baik laki-laki maupun perempuan,” tutupnya.(*)

Ghalib (Relawan Tim Evakuasi dari Aliansi Mapala Sulsel)

Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here