RUMAH DI JENEPONTO KEMALINGAN SAAT SEMUA WARGA SIBUK DI PESTA

0
242
views
Foto ini milik kompas.com

JENEPONTO – Apakabarkampus.com – AKSI PENCURIAN terjadi di Dusun Bilurung Barat, Desa Beroanging, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto.

Menurut Mirda (21) merupakan korban pencurian, bahwa rumahnya kemalingan sekitar pukul 01:00 atau pukul 02:00 dini hari, sebab menurut pengakuan darinya, pada saat aksi pencurian itu terjadi ia terbangun oleh sebuah suara debam yang berasal dari luar kamarnya.

“Kukira itu Kak kucingji yang menjatuhkan benda atau apalah di luar kamarku, tapi memang lain-lain sekalimi perasaanku, tidak enak sekali kudengar, tapi tidak beranika keluar kamar karena sendiria di rumah dan itu terjadi sekitar jam satu atau jam dua malam,” tuturnya, Selasa (04/08/2020).

Setelah salat subuh, kata Mirda, barulah ia memeriksa lemari di rumahnya yang sudah berantakan dan kunci lemari juga ada di sana terpasang. Setelah yakin bahwa ini bukan ulah kucing, dan curiga ini pelaku pencurian, barulah Mirda menghubungi orang tuanya yang sedang berada di daerah Lambupeo Kecamatan Bangkala bersama anggota keluarga yang lain kecuali hanya dirinya sendiri yang tinggal menjaga rumah.

“Nanti selesaipa salat subuh, Kak, baru kutelpon Mamakku karena adai di Lambupeo sama Bapakku, adekku dan kakakku, saya tanya ke Mamakku bilang ada kita’(anda) simpan uang di lemari? Jadi nabilang Mamakku ada, jadi saya langsung buka dan periksa dompet yang ada di dalam, saya lihat uang sisa seratus ribu,” ujarnya.

Betapa kagetnya Mawati Daeng Ngiji (orang tua Mirda) setelah tahu sisa uang yang ada di dompetnya tinggal seratus ribu. Sebab menurut Mawati Daeng Ngiji, uang yang ada dalam dompet itu totalnya Rp.6.000.000 (enam juta rupiah) yang rencana akan digunakan untuk merenovasi rumah panggungnya.

Tapi setelah Mirda memeriksa lebih detail dompet itu, ternyata ada sejumlah uang Rp.3000.000 (Tiga juta rupiah) yang terpisah dan sepertinya si Maling tidak sempat memeriksa karena terselip di bagian lain dompet itu.

“Total uang yang diambil sama pencuri itu, Kak, Dua Juta Sembilan Ratus, nasisakan seratus ribu, tapi lama begitu setelah saya cek, ternyata ada lagi uang terselip tiga juta, jadi uang yang selamat itu kak Tiga Juta Seratus, dan yang diambil sama pencuri itu Dua Juta Sembilan Ratus karena mungkin tidak nadapatki uang tiga juta ini yang terselip,” ungkapnya lagi..

Kasus pencurian ini sepertinya akan mengundang banyak persepsi yang menegangkan, sebab terjadinya kemalingan rumah ini pada saat di Dusun Bilurung Barat warganya sedang sibuk di pesta, dan orang tua serta kakak dan adik si korban ini sedang berada di luar Kecamatan Bangkala Barat.

Apalagi, menurut pengakuan Mirda, bahwa kemalingan di rumahnya ini bukanlah kasus yang pertama, melainkan kasus yang sudah kesekian kalinya menimpa keluarganya.

“Ini bukan kasus yang pertama, Kak, tapi sudah berulang-ulangmi ini kejadian kecurian, tapi dulu yang biasa hilang di rumah ini masih sekitar seratus ribu, termasuk saya pernah hilang uangku seratus lima puluh ribu rupiah di kamarku dan lemariku itu berantakan seperti sudah di geledah, tapi orang tuaku selalu bilang janganmi dilapor, termasuk sekarang ini Mamakku nabilang janganmi dilapor ke polisi, padahal menurutku kalo tidak dilaporki ini, pasti berulah teruski itu pencurinya,” lanjutnya.

“Adami polisi datang, kak, tapi katanya korban harus datang dulu melapor ke kantor polisi baru bisa diproses,” pungkasnya.

Kasus ini sungguhlah ironis, karena melihat korban yang seakan-akan gampang merelakan harta bendanya hilang begitu saja tanpa perlu diproses. Tapi apapun itu, ini semua pasti ada sebabnya, entah itu karena kepercayaan masyarakat yang menurun atas kinerja pihak yang berwajib, atau karena si korban sebenarnya tahu pelakunya tapi sedang dalam keadaan tertekan atau terancam oleh sesuatu yang lain sehingga tidak berani melaporkan perbuatannya.

Apapun itu, semua ini akan menimbulkan banyak persepsi, maka pihak yang berwajib harus bekerja lebih ekstra lagi untuk melibas seluruh aksi-aksi serta pelaku kejahatan yang merugikan masyarakat, kemudian pihak pemerintah setempat harus mengawal dan terus membackup masyarakatnya yang sedang ditimpa musibah, bahkan bila perlu harus mewakili si korban untuk datang ke pihak yang berwajib.

Sebab ini adalah aib hukum yang membuat kita semua miris melihat korban seperti Mirda dan Mawati Daeng Ngiji yang masih ragu-ragu untuk datang melapor ke pihak yang berwajib.

Maka pemerintah dan kepala lingkungan setempat, mestinya bertindak lebih gesit juga untuk meyakinkan si korban agar mau datang memberikan laporan ke pihak yang berwajib agar kasus ini dapat diproses, karena bagaimanapun di kantor-kantor pihak berwajib itu ada prosedural yang mengikat mereka. Maka korban harus mendukung prosedural yang ada di sana agar bisa menindaklanjuti dan mencari pelaku maling ini.(*)

Adji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here