Kampung Pustaka, Memulai Gerakan Literasi Lewat Film di Beroanging

0
46
views

JENEPONTO – apakabarkampus.com – Kampung Pustaka Beroanging mengadakan bedah film yang berjudul “The Book Thief” pada Jumat (15/08/2020) di basecamp pukul 20.00-selesai.

Bedah film ini merupakan persembahan perdana Kampung Pustaka sekaligus pralaunching perpustakaan desa yang digarap oleh para pemuda di Beroanging.

Adji Sukman atau yang dikenal dengan nama pena, Djisuk, selaku ketua dari Kampung Pustaka mengungkapkan, bahwa bedah film ini juga diharapkan mampu membangkitkan minat baca para pemuda yang ada di Desa Beroanging.

“Jadi, sengaja saya pilih film ‘The Book Thief’ ini untuk dibedah dalam persiapan launching perpustakaan yang kami garap bersama para pemuda di desa, berharap lewat bedah film ini para peserta yang hadir bisa mengambil pelajaran lewat cerita dalam film tersebut dan bisa menuju jalan keasadaran bahwa literasi itu amatlah penting di desa kita ini,” ujarnya di lokasi bedah film, Jumat (15/08).

Termasuk, kata Djisuk, salah satu plot cerita dalam film itu bisa menjadi pukulan telak untuk kita semua, di mana saat Liesel sang tokoh utama dalam film itu memberanikan diri untuk mencuri buku di salah satu rumah pejabat negara di Jerman demi mendapatkan bacaan baru, sementara kita-kita ini dikaruniahi dengan era yang lebih baik, di mana buku sudah sangat mudah didapatkan tapi cenderung abai dengan buku.

“Itu pukulan telak bagi kita semua, bahkan kita bisa membuat persepsi bebas sendiri terhadap plot cerita tersebut, bahwa Liesel lebih memilih berdosa karena mencuri buku daripada menjadi bodoh karena tak lagi punya buku bacaan, itu Liesel, tak seperti kita sekarang ini, ada banyak di luar sana lebih memilih mencuri makanan daripada buku,” lanjut Dijusk.

Bahkan, kata Djisuk, ketika Liesel diprotes oleh Rudy saat tertangkap basah mencuri buku, kenapa mesti repot-repot mencuri buku? Kata Rudi, padahal kita kan sedang kelaparan, kenapa tak mencuri makanan saja?

“Tapi Liesel menjawab dengan tegas, ‘TIDAK!!!’ saya tidak mau mencuri makanan! dan buku ini juga tidak saya curi, hanya kupinjam saja,” ujar Djisuk, lagi mereka ulang percakapan Liesel dan Rudy dalam film.

Kondisi pada plot cerita ini mengingatkan saya terhadap pernyataan salah seorang penulis tanah air, yakni Jazuli Imam, penulis buku dwilogi Pejalan Anarki yang sekarang sudah berganti judul menjadi “Sepasang Yang Melawan”.

“Jazuli pernah bilang lewat akun instagramnya saat ditanya tentang bagaimana pendapatnya tentang buku yang cetak tanpa izin dengan tujuan untuk dibaca dan bukan untuk dikomersialkan, kata Jazuli saat itu begini ‘Jika saya ingin membaca sebuah buku, maka saya akan berusaha untuk meminjam, meminta, atau bahkan akan saya curi buku itu jika memang itu jalannya agar bisa saya baca buku yang kuinginkan itu’ kira-kira seperti itulah kata Jazuli,” terang, Djisuk.

Munculnya Kampung Pustaka di Desa Beroanging, sepertinya akan menjadi angin segar bagi para pemuda dan pelajar Beroanging yang suka dengan buku.

Lalu warga Beroanging, baik itu tokoh masyarakat, agama, pemuda dan pemerintah yang memegang regulasi di desa haruslah mendorong dan mendukung penuh kreativitas pemuda ini dalam rangka membumikan literasi di pelosok-pelosok.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here