Sejumlah Pegiat Literasi Gelar Sastra Sabtu Sore

0
16
views

Apakabarkampus.com — Perpustakaan itu rumah kita bersama. Begitu kata-kata yang selalu diungkapkan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulsel, Moh. Hasan Sijaya, SH, MH. Karena itu, dia terbuka untuk bersinergi dengan para pegiat literasi, penyair, sastrawan, seniman, dan budayawan.

Inilah yang jadi salah satu alasan, sejumlah pegiat literasi mengadakan acara “Sastra Sabtu Sore, besok (5/9/2020). Untuk acara perdana akan membahas dan membaca puisi-puisi karya Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum yang terhimpun dalam buku Antologi Puisi “Perempuan Makassar”. Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum, merupakan Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Daerah FBS UNM, yang dikenal sebagai sosok yang tekun menulis buku ajar Basa Mangkasarak. Sebagai pembahas buku Puisi “Perempuan Makassar” itu adalah Yudhistira Sukatanya, penulis, sutradara teater dan pegiat literasi.

Acara yang dijadwalkan akan jadi agenda rutin ini, merupakan kerja sama DPK Provinsi Sulawesi Selatan, Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS), dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar. Kepala Bidang Perpustakaan DPK Provinsi Sulsel, Drs. Yulianto, MM, mengatakan akan memberikan dukungan pada kegiatan ini. Kabid yang akrab disapa Pak Anto itu berharap acara ini berjalan lancar dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Rusdin Tompo dari KoPi Makassar, mengatakan bahwa ide mengadakan Sastra Sabtu Sore ini tercetus di sela-sela peringatan 75 Tahun Indonesia Merdeka, yang diadakan pada 18 Agustus 2020 lalu.

Saat itu, sejumlah penyair dan pegiat literasi mengadakan acara “Malam Ramah Tamah” yang dikemas dalam bentuk pembacaan puisi bertema kemerdekaan di Taman Baca Lontaraq Masjid Ashabul Jannah, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan Jl. Sultan Alauddin Makassar.

Dalam acara yang diberi nama “Puisi Merdeka, Merdeka Berpuisi” tersebut, tampil sejumlah penyair dan seniman membacakan karya sendiri atau orang lain. Bahkan ada juga beberapa anak tampil dalam puisi dan gerak tari yang diiringi kesok-kesok. Anak-anak ini merupakan binaan Dewan Kesenian Gowa.

Selain itu, acara yang dipandu oleh Andhika Mappasomba ini juga menghadirkan Syahril Rani, yang membacakan puisi berbahasa Makassar, Muhammad Amir Jaya dengan puisi religinya, Daeng Mangeppe, dan Asis Nojeng yang membaca puisi “Ode Buat Negeri” karya Yudhistira Sukatanya. Masih ada pembaca puisi lainnya, yakni Faisa Aljaedy, Suprapto Budisantoso, Muhammad Idris “Baba Ong’,
Ahmadi Haruna, dan Irwan Parawansah. Menariknya, meski diberi label puisi merdeka, beberapa penyair justru memadukan suasana pandemi Covid-19 dengan peringatan HUT Kemerdekaan tahun ini.

Moh. Hasan Sijaya di hadapan para seniman, malam itu, mengatakan bahwa dirinya rindu sebuah tempat untuk berkumpul. Tempat itu untuk mengekspresikan potensi kesenimanan, baik nyanyi, baca puisi, menari, melukis dan lainnya. Karena itu DPK Provinsi Sulsel siap memfasilitasi dengan menjadikan Taman Baca Lontaraq Masjid Ashabul Jannah, sebagai panggung pertunjukan.

“Mimpi saya, taman baca ini jadi tempat nongki kita,” kata Moh. Hasan Sijaya.

Dengan merendah dia menambahkan bahwa taman baca yang berada di kantornya itu memang tempatnya agak sempit. Tapi apabila hati kita luas dan terbuka menerima setiap orang yang datang maka panggung ini akan terasa melebihi luasnya lapangan Karebosi. Dia juga menyampaikan bahwa DPK Provinsi Sulsel itu menyikapi apa yang menjadi pikiran dan kegelisahan seniman dan budayaan di daerah ini.

Mengakhiri acara malam itu, Moh. Hasan Sijaya membawakan puisi berjudul “Merdeka Itu” yang berkisah tentang peran strategis perpustakaan sebagai episentrum gerakan literasi. Puisi tersebut merupakan ciptaan Rusdin Tompo, yang malam itu juga hadir membacakan puisinya berjudul “Surat untuk Bung Karno”.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here