Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca (Catatan dan Fakta)

0
84
views

Oleh: Heri Rusmana *

Apakabarkampus.com — Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap tanggal 14 September dan dirangkaikan dengan kegiatan Bulan Gemar Membaca. Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca digaungkan pertama kali pada 14 September 1995. Penetapan perayaan itu berdasarkan surat Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 020/A1/VIII/1995, pada 11 Agustus 1995 kepada Presiden RI ke-2, Soeharto. Surat itu kemudian memperoleh respons presiden, berupa peresmian tanggal 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca, yang dirayakan sejak tahun 1995.

Hari Kunjung Perpustakaan, layaknya perayaan hari-hari besar lainnya. Biasanya, pada peringatan hari ini, diadakan beragam kegiatan seperti pameran, lomba-lomba terkait pembudayaan gemar membaca, dan berbagai even yang muatannya untuk menarik minat orang datang ke perpustakaan serta untuk memperkuat gerakan literasi. Puncak peringatan acara ini dilaksanakan di Pepustakaan Nasional RI. Namun, sehubungan adanya pandemi Covid-19, penyelenggaraan kegiatannya dilaksanakan terbatas, dan dilakukan secara daring.

Sebagai refleksi atas peringatan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca, penulis membuat beberapa catatan kritis dengan merujuk pada fakta-fakta yang perlu mendapat perhatian berbagai pihak. Kepedulian dan perhatian itu, tak hanya diperlukan datang dari pemerintah, insan perpustakaan, dan penggiat literasi, tapi juga pemangku kepentingan lainnya.

Pertama, Kelembagaan Perpustakaan. Menurut data dari Perpustakaan Nasional RI, jumlah perpustakaan di Indonesia sebanyak 164.610 unit. Hal ini menempatkan perpustakaan di Indonesia berada di posisi kedua perpustakaan terbanyak di dunia. Sementara urutan pertama ditempati India dengan 323.605 perpustakaan (Kompas.id, Juli 2019).

Dari total perpustakaan yang dimiliki Indonesia, perpustakaan sekolah mengambil porsi terbesar, yakni sebanyak 113.541 bangunan (IDNTimes, 14 September 2019). Memprihatinkan, karena banyak perpustakaan sekolah yang tidak layak, bahkan, ada yang tercatat dengan status rusak total. Kemdiknas RI, dalam publikasi Rangkuman Statistik Persekolahan, melansir sebanyak 4.573 perpustakaan sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK dalam kondisi rusak berat pada tahun ajaran 2017/2018. Keadaan ini menyebabkan banyak siswa kurang mendapatkan akses untuk membaca buku melalui perpustakaan yang ada di sekolah mereka.

Kedua, Penerbitan Buku. Menurut data yang dipublikasikan oleh London Book Fair 2019, Indonesia merupakan negara yang paling aktif menerbitkan buku di antara negara-negara anggota ASEAN. Setiap tahun, setidaknya ada 30 ribu judul buku yang diterbitkan di Indonesia. Sementara Malaysia diurutan kedua, hanya menerbitkan 19 ribu judul (databoks.katadata.co.id).

Ketiga, Minat Baca. Dari berbagai rujukan yang penulis himpun, meskipun penerbitan buku cukup tinggi dan jumlah perpustakaan di Indonesia makin banyak, tetapi tidak berbanding lurus dengan minat baca masyarakat. Soal minat baca ini, tercermin dari data yang dipaparkan oleh berbagai lembaga. Misalnya, data Central Connecticut State University, menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam laporan berjudul World’s Most Literate Nations. Indonesia berada satu tingkat di bawah Thailand dan hanya unggul dari Bostwana.

UNESCO, pada 2012 mencatat tingkat minat baca Indonesia hanya 0,001 persen atau hanya ada 1 orang yang rajin membaca di antara 1000 orang. Kondisi ini semakin diperkuat oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat, pada 2015, hanya ada 13,11 persen penduduk yang membaca majalah atau koran. Sangat berkebalikan dari jumlah penonton televisi yang mencapai 91,47 persen di tahun yang sama.

Keempat, Pemustaka. Dalam kondisi normal sebelum pandemi Covid-19 menerpa Indonesia, pengunjung perpustakaan didominasi oleh kelompok milenial dan generasi Z yang lahir di tahun 1995 sampai dengan 2010. Mereka ini, ketika berkunjung ke perpustakaan umumnya membawa laptop dan smartphone. Mereka selalu terhubung dengan dunia maya yang sudah menjadi bagian gaya hidupnya.

Ketika pandemi Covid-19 menerpa dan diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hampir semua layanan perpustakaan tidak memberikan layanan kepada pemustaka. Kalaupun perpustakaan buka, hanya terbatas pada pengembalian buku yang dipinjam pemustaka. Bagi perpustakaan yang telah dilengkapi dengan koleksi digital, kondisi tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap pemustaka. Karena pemustaka bisa mengakses koleksi secara online. Sementara perpustakaan yang masih dikelola secara konvensional, praktis tidak dapat melayani pemustaka karena adanya kebijakan untuk tetap di rumah saja.

Data dan fakta-fakta tersebut, membuat kita, terutama pengelola perpustakaan, untuk selalu berinovasi agar orang tetap berkunjung ke perpustakaan, dapat mengakses buku-buku, arsip-arsip dan bahan pustaka lainnya, serta tak kendor semangat membacanya. Di era kenormalan baru ini, pustakawan dan masyarakat harus tetap kreatif dan produktif. Pandemi Covid-19 yang belum reda, bukan alasan untuk meniadakan layanan perpustakaan. Justru bisa jadi momen bagi kita untuk terus membaca dan belajar.

Literasi menjadi jawaban bagi kita untuk membaca situasi ini dengan cermat dan baik, mengeksplorasi pikiran-pikiran positif dengan pengetahuan yang dimiliki, kemudian mentransformasikannya menjadi kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi orang banyak, bisa dalam bentuk produk atau jasa yang berguna bagi peningkatan kualitas hidup bersama. Bersyukur, bahwa perpustakaan terus berproses dengan progres capaian yang makin terlihat, sebagaimana diakui oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, M. Syarif Bando. Dikatakan, di era new normal ini, perpustakaan ditantang dan dituntut beradaptasi menyesuaikan layanannya, melakukan inovasi untuk membantu masyarakat beradapatasi. Hanya dengan begitu, perpustakaan membuktikan makna kehadirannya dan sekaligus berkontribusi bagi kemajuan peradaban, yang dimulai dari membaca. (*)

*Penulis : Heri Rusmana
(Pustakawan Madya pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here