KOMPAK Gelar Workshop Budaya ‘Pappasang’ dalam Perspektif Islamic Worldview

0
24
views

Apakabarkampus.com — KOMPAK (Komunitas Pemuda Aktif Kontributif) menggelar workshop budaya pada hari Kamis, (15/10).

Workshop yang mengambil tema Kearifan Lokal “Pappasang” dalam Perpektif “Islamic Worldview” ini dilaksanakan secara daring melalui aplikasi google meet. Topik ini dianggap penting untuk diketahui oleh generasi muda, khususnya dari Sulawesi Selatan. Diharapkan setelah mengikuti workshop ini, peserta dapat terinspirasi karena di dalam “pappasang” terdapat nasihat dan wejangan yang memiliki beragam nilai-nilai secara universal.

Pembicara pada workshop ini, yaitu Dedi Gunawan Saputra, S.Pd., M.M., CHCM yang juga pemerhati budaya Sulawesi Selatan. Dedi mengungkapkan bahwa pentingnya kearifan lokal “pappasang” ini sebagai salah satu mutiara yang sangat berharga untuk generasi penerus bangsa di masa yang akan datang.

“Saya memandang bahwa “pappasang” ini adalah hal yang substantif untuk terus digelorakan dan diwariskan kepada generasi muda. Hal ini disebabkan karena generasi muda kebanyakan kehilangan jati dirinya sebagai manusia yang berbudaya, padahal kita mempunyai “pappasang” yang perlu dipegang teguh dan kita refleksikan pada kehidupan sehari-hari, apalagi “pappasang” ini di dalamnya juga terintegrasi dengan worldview Islam yang sangat kuat”, ujar Dedi yang juga merupakan founder KOMPAK.

Muh. Khusni Tamrin salah satu peserta workshop mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuat kita rindu dengan kampung halaman dengan segala pesan dan nasihat yang diajarkan oleh nenek moyang kita. “Hemat saya, kegiatan seperti ini sangat penting diadakan. Utamanya bagi para pejuang di tanah rantau. Selain untuk melestarikan budaya asli Sulawesi Selatan, juga semakin meningkatkan kecintaan kita kepada budaya dan kampung halaman”, ungkap Khusni yang juga akrab disapa Uci ini.

Salah satu pengurus IKAMI Cabang Malang, M. Ibnu Hajar mengapresiasi cultural workshop ini karena berkaitan juga dengan keagamaan.

“Walaupun sifatnya webinar, akan tetapi konsep edukasi budaya dan agama ini dapat terlaksana dengan baik, apalagi masifnya para peserta yang ikut serta dan juga terjadi interaksi dialog dua arah yang memungkinkan saling menyampaikan gagasan dan pengalaman terhadap topik ini. Satu hal yang saya peroleh setelah mengikuti workshop ini, yaitu kebudayaan dan agama itu saling berkaitan dan saling menguatkan, bukan menjadikannya kontradiksi. Saya sangat sependapat dengan yang dikemukakan oleh narasumber”, ujar Ibnu yang juga merupakan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Andi Hidayatullah, mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Malang juga mengungkapkan bahwa pentingnya budaya sebagai salah satu bentuk pewarisan dalam rangka untuk menyadarkan generasi muda akan kecintaannya pada hal-hal yang bersifat kultural.

“Kearifan lokal seperti ini memang dibutuhkan untuk menjadi proteksi dari arus globalisasi yang kian mendobrak sisi-sisi kemanusiaan kita, sehingga jika tidak dibekali dengan pegangan budaya dan agama, maka hal itu membuat generasi muda kita rapuh. Kita tidak ingin itu terjadi, sehingga workshop seperti sangat penting untuk dilakukan sebagai salah satu medium penyampai yang baik untuk generasi pelanjut kita”, ungkap Andi yang juga berasal dari Sulawesi Selatan.

Adapun peserta yang turut serta dalam workshop ini berasal dari beragam profesi, yaitu guru, dosen, pelajar, mahasiswa, dan juga aktivitis dari lintas kampus. Puluhan peserta sangat antusias untuk mengikuti workshop ini, terbukti dengan banyaknya yang melakukan registrasi dan melakukan dialog untuk membahas topik yang sangat penting ini. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya dan IKAMI (Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia) Sulsel Cabang Malang. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here