Hasan Sijaya Buka Bimtek SPP TIK Replikasi Mandiri Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

0
48
views

Apakabarkampus.com — Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan, Moh. Hasan Sijaya, S.H., M.H membuka kegiatan Bimbingan Teknis Strategi Pengembangan Perpustakaan dan Teknologi Informasi Komunikasi (Bimtek SPP TIK) bagi pengelola perpustakaan desa / kelurahan, perpustakaan lorong, perpustakaan komunitas dan taman baca masyarakat, penerima manfaat Replikasi Mandiri Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Continent Makassar, Senin (2/11/2020).

Acara ini juga dihadiri Kepala Bidang Perpustakaan, Drs. Yulianto, M.M, Kepala UPT Perpustakaan Muh. Hadi, S.Sos, M.Si, Konsultran Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial A. Gusnaningsih, S.Pt, Master Trainer Nasional Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang juga bertindak selaku narasumber dalam kegiatan ini Irsan, S.IP dan Burhanuddin, S.Kom.

Dalam sambutannya se saat sebelum membuka kegiatan tersebut, Kadis Hasan Sijaya menyatakan salut atas pelaksanaan kegiatan ini, karena menurutnya Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan sudah melakukan hibah terkait replikasi mandiri transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

“Sudah tersentuh 12 kabupaten dan 123 desa/kelurahan yang telah diberi bantuan hibah berupa buku, rak buku dan komputer. Kalau itu sudah dilakukan sekarang bagaimana personnya, bagaimana pengelola perpustakaannya, mereka juga harus diberikan pembinaan terkait pengembangan perpustakaan dan teknologi informasi komunikasi (TIK), supaya terjadi keseimbangan antara hibah fisik dengan pengembangan SDM sehingga semua perjalanannya seiring,” ujarnya.

Dengan dilaksanakannya bimtek ini, maka diharapkan para pengelola perpustakaan dapat memahami bagaimana strategi mengelola dan mengembangkan perpustakaanannya dengan berbasis TIK agar perpustakaan bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat, bukan hanya sebagai tempat membaca dan meminjam buku tetapi lebih dari itu, sebagai tempat masyarakat melakukan berbagai kegiatan, menumbuhkan gerakan literasi secara berkesinambungan dalam rangka meningkatkan kecerdasan, SDM, taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.

“Kita membangun gerakan literasi ini dari desa dari pelosok, mencerdaskan anak bangsa dari desa dan dari pelosok. Saya yakin dan percaya kalau gerakan ini terus tumbuh dan berkembang melalui pemberdayaan perpustakaan maka akan berdampak pada peningkatan gerakan ekonomi masyarakat khususnya di wilayah pedesaan,” paparnya.

Menurutnya, Perpustakaan saat ini sudah bertransformasi, sudah berinklusi sosial sehingga lebih luwes lagi bergerak. Jadi dia tidak terbatas ruang dan rak buku saja, semua titik-titik yang bisa dianggap ruang baca itu bisa dilakukan. Di perpustakaan masyarakat membaca buku kemudian mengaplikasikan dan menjabarkan apa yang dibacanya.

Ia mencontohkan, masyarakat datang membaca buku pertanian kemudian ilmunya diterapkan sehingga produktivitasnya meningkat, atau membaca buku-buku keterampilan kemudian diwujudkan dengan melakukan pelatihan-pelatihan keterampilan tersebut di perpustakaan, lalu hasilnya dipromosikan dan dipasarkan secara online dengan menggunakan fasilitas intenet di perpustakaan.

“Seperti itulah contok kercil apa yang menjadi gambaran dari perpustakaan berbasis inklusi sosial, dan peranan pengelola perpustakaan sangat penting dalam menggerakkan semua ini. Oleh karena itu saya berharap geraka literasi ini harus terus dilakukan, teruslah berkegiatan dan jangan pernah berhenti. Saya selalu bersama anda, catat baik-baik yah, saya selalu bersama para pengelola perpustakaan ini. Dinas Perpustakaan tidak pernah melepaskan diri dari pengelola perpustakaan apapun yang dilakukan setidaknya ada bentuk perhatian yang berikan,” harapnya.

“Saya salut sama kalian, kalian kerja tampa pamrih di mindset anda hanya satu bagaiman itu anak-anak bisa pintar membaca , apa yang anda kerjakan itu belum tentu orang lain bisa dan anda sudah melakukannya, dan ini di mata semua orang menjadi manfaat dan di mata Allah SWT menjadi amal ibadah,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengembangan dan Pengolahan Bahan Perpustakaan DPK Sulsel Syamsuddin, S.S., M.M selaku pelaksana kegiatan dalam laporannya menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme para pengelola perpustakaan yang pada gilirannya nanti diharapkan dapat memberi kontribusi yang signifikan bagi upaya pengembangan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dua malam Senin-Rabu (2-4/11/2020) ini, menurut Syamsuddin diikuti 50 peserta dari perpustakaan umum kabupaten/kota perpustakanaan umum desa/ kelurahan, perpustakaan lorong, perpustakaan komunitas dan taman baca masyarakat dari beberapa daerah kabupaten/kota penerima manfaat replikasi mandiri program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di Sulsel. * (naz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here