Ketua Dewan Pembina Penpro, Wakaf Buku di Perpustakaan Lorong Makassar

0
12
views

Apakabarkampus.com — Ketua Dewan Pembina Asosiasi Penulis Profesional Indonesia Pusat Prof.. Dr.Ir. H.Mohammad Jafar Hafsah, MAP, menyumbangkan ratusan buku-buku karyanya pada sejumlah perpustakaan lorong di kota Makassar. Sekretaris Jenderal Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia ini, dikenal birokrat senior yang penulis, seniman dan budayawan sekaligus politisi Partai Demokrat yang memiliki kegemaran bersedekah lewat buku.

“ Saya beramal jariah untuk dunia dan akherat dengan menulis, menerbitkan buku-buku lalu saya sumbangkan di seluruh perpustakaan dan tokoh-tokoh di Indonesia”, kata Jafar Hafsah, seusai menyerahkan buku karyanya pada sejumlah tokoh akademisi, pustakawan, pengelola perpustakaan lorong di antaranya Ketua IPI Kota Makassar, Ketua IPI Provinsi Sulsel Dr.Quraish Mathar, M.Hum., Dr. Sultan, S.E.M.Si., Dr.H.M. Nurdin, M.Pd. Dr.Partono, H. Sampara Sarif, S.H., Ilham Supiana, Matturungan, H.Abd.Rahman, S.Pd.M.Pd. Heri Emba, Muslimin Kamase, Daeng Liwang, Syarifuddin Mallombasang, Suanto Buang, Ferdi, Muchtar, Minggu (1/11).

Tokoh literasi nasional yang menerima penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, juga dikenal deklarator Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis yang digagas oleh tokoh perbukuan nasional, Bachtiar Adnan Kusuma di Gedung KONI DKI Jakarta, medio 2012 lalu bersama sejumlah tokoh-tokoh literasi dan perbukuan nasional. Menurut MJH, literasi adalah proses pemberian makna dari seseorang kepada orang lain. Karena itu, literasi adalah sebuah kemampuan personal agar bisa menjadi literatur berjalan, tempat di mana orang bisa bertanya dan memeroleh peradaban.

Lebih jauh, mantan ketua Fraksi PD DPR RI, kelahiran Soppeng 17 Februari 1949 lalu ini, menegaskan kalau kemampuan literasi Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara lain di dunia. Karena itu, Jafar setuju kalau dengan hadirnya perpustakaan lorong di kota Makassar maupun perpustakaan desa di Sulsel bisa menjadi alat utama perekat tumbuhnya budaya membaca dan menulis di Sulsel.

“ Sulsel dikenal sebagai bangsa yang punya literasi sangat tinggi dengan hadirnya mahakarya Lagaligo” papar Jafar.

Karena itu, MJH berharap semua pihak harus ikut terlibat agar minat literasi tumbuh dan berkembang di Sulsel. “ Kita semua berharap Sulsel menjadi pintu gerbang utama gerakan literasi di Indonesia timur,’’ kunci MJH. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here