Pengobral sastra tersegregasi dalam Revolusi pemikiran., “BACA”

0
235
views

“BACA”

Oleh: Suljaris (Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, UIN Alauddin Makassar)

Setelah khatam membaca novel The Ringmaster’s Daughter oleh Jostein Gaarder yang dalam edisi Indonesia berjudul Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, sekonyong-konyong bermekar gairah untuk menuangkan deskripsi abstrak dalam memori kedalam manifestasi teks. Mengutip adagium Gaarder bahwa satu-satunya cara untuk meringankan benak yang kelewat aktif adalah dengan mengarahkan gejolaknya ke kegiatan menulis. Buku milik my brother Adji Sukman yang bersedia dipinjamkan tersebut menggoda untuk mengejawantahkan ide atau apapun itu yang kebetulan melintas dalam lalu-lalang pikiran. Lanjut pernyataan Gaarder bahwa saya tidak dapat mencegah diri saya untuk melahirkan gagasan. Nyaris seperti proses alamiah, sesuatu yang datang dan pergi begitu saja.

Memang berkesan ingin dipuja sebagai orang yang berhobi eksotik yakni membaca atau nawaitunya mau disebut sebagai pecinta aksara. Tafsiran yang demikian sebaiknya diapresiasi. Kadang-kadang terbesit juga dorongan yang seperti itu. Akan tetapi Hyperreader akan menggali sejauh mana pesan kritis yang ingin disampaikan dalam tulisan tersebut. Ekspektasi primer dari tulisan ini mengembalikan marwah mahasiswa yang acapkali dilabeli sebagai masyarakat ilmiah, sementara realitasnya tidak sedikit diantaranya alergi terhadap buku.

Jika Widji Tukul dalam gubahannya berorasi bahwa seniman sibuk beronani dengan seninya, maka saya katakan mahasiswa juga harus jatuh cinta dengan bukunya, kalau perlu jatuh cinta yang bertubi-tubi. Bukankah orang berilmu akan memiliki ilmu setaraf dengan kadar cintanya kepada ilmu tersebut?. Jangan lagi badik, busur, ataupun batu yang kerap menjadi senjata idola sang aktivis. Melainkan mesiunya adalah ideologi, merepresentasi kedalam gagasan-gagasan cemerlang. Konseptualisasi mabda’ diperoleh dari hasil kontemplasi khusu’ di sepanjang momen terhadap bacaan yang dikonsumsi. Seyogianya tradisi membaca teraktualisasi kedalam ruang-ruang aktivitas mahasiswa. Memformulasi peran sebagai kandidat pemimpin masa depan tentunya banyak bercermin kepada pemimpin masa lalu yang masih menjiwai hingga sekarang. Belajar dari M. Natsir, bagaimana membantah argumen-argumen Soekarno yang dapat kita lacak dari kompilasi literatur beliau “Kapita Selecta”. Kesemuanya terilhami dari militansi melewatkan rangkaian durasi waktu bergumam dengan tumpukan buku. Mahasiswa atau identitas apapun yang melekat dalam diri manusia berakal, dari hal-hal humoris sampai ke pembicaraan akademis senantiasa mengandung konten yang memantik untuk mencari.

Namun di lain sisi, tools Post-modernisme berimbas kepada sikap manja untuk mendapatkan informasi secara prematur sehingga hanyalah rutinitas mengerjakan tugas dosen. Tidak lagi sibuk oleh lalu lintas pikiran. Jarang terlihat sabung referensi. Hanyalah segerombolan yang maunya terus disuapin. Kampus yang sejatinya wadah candradimuka menempa menjadi intelektual peradaban. Kebanyakan malah menghasilkan mesin, bukan manusia berakal. Menyelesaikan tugas karya tulis ilmiah banyak yang copy-paste kemudian mereplasi penulisnya. Dengan emosional Gaarder mengecam bahwa gagasan mengambil bahan yang sudah ditulis orang lain dan menyodorkannya seperti milik sendiri sungguh sebuah tindakan yang menjijikkan. Adibibit koruptor nyatanya tersemai di dalam kampus. Keengganan mengkaji banyak pustaka beralih mencari jalur pintas upaya untuk meredam amarah dosen. Ketakutan berlebihan dengan IPK yang rendah. Anehnya, inspirasi membaca justru muncul tidak di ruang perkuliahan. Kebanyaakan lahir dalam perkaderan organisasi mahasiswa, Halaqah di pelataran Masjid, kajian di bawah naungan rimbunan pohon serta diskusi ideologis di bale-bale. Aneh bukan?, girah membaca berkembang biak di sekitaran kampus, alpa dalam proses belajar mengajar Dosen-mahasiswa. Lebih lanjut Gaarder mengkritik bahwa ada sesuatu yang lucu dalam cara masyarakat melahirkan orang yang sanggup dan sekaligus ingin menjadi penulis, tetapi tidak mampu memberikan sesuatu apapun. Bagaimana bisa membuat makalah ilmiah dan skripsi orisinal jika tak punya sesuatu untuk ditulis?. Kenakalan jari-jari mengintegrasikan informasi lahir dari kecekatan mengumpulkan berbagai sumber. Jelas, kepiawaian dalam menulis bertolak dari kelihaian membaca.

Seni membaca tak lagi mengusik. Terlerailah antara mahasiswa dan bukunya ibarat Petani bercerai dengan cangkulnya. Siapa saja yang sudah mati selera merapal bacaan., siap-siap saja menyambut “Ahlan Wa Sahlan” kepada generasi tumpul dan penikmat. Bukankah dalam islam instruksi pertama Tuhan kepada Muhammad adalah perintah untuk membaca?. Nah, membaca adalah kerja-kerja kenabian. Karena dengannya, keutuhan informasi akan menghujam kuat keimanan sang Abdi. Tak ayal jikalau beriman sebab referensi cenderung berkualitas dari pada sekedar beriman karena tradisi.

Sekali lagi, tulisan ini sedang ingin merayu. Barangkali lewat percikan gombalannya meruap libido ingin bercumbu dengan buku. Mengutip nasehat Syekh Taqiyuddin An-Nabhani bahwa Apabila kekayaan sebuah bangsa yang bersifat materi hancur, maka dengan segera akan bisa dipulihkan kembali, selama bangsa itu melestarikan kekayaan berpikir mereka. Namun apabila kekayaan berpikir mereka telah terabaikan, dan sebaliknya, malah melestarikan kekayaan materi, maka kekayaan itu pun akan segera sirna dan akan kembali menjadi miskin. Pemikiranlah menjadi pangkal kebangkitan suatu bangsa sementara pemikiran akan terbentuk secara kaffah kalau mengemban ideologi tertentu. Mempelajarinya dengan membaca dan talaqqi. Disinilah macetnya, kadang-kadang kejengahan menghantui. Rasa malas akan membaca menapaktilasi jejak kaum terjajah. Masih inginkah mental kita tersegregasi?. Memang membunuh adalah Kejahatan. Tapi membunuh kemalasan adalah REVOLUSI PEMIKIRAN…[SJ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here