SMAN 11 Pekanbaru Keluarkan Siswa Kelas VII Hanya Karena Sering Telat

0
493
views

 

│‎PEKANBARU, – Program wajib belajar 12 tahun merupakan program pemerintah yang berlaku mulai bulan juni 2015 sebagaimana yang di sampaikan oleh Puan Maharani selaku Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia  .

Tetapi kenyataannya sangat berbanding terbalik apa yang di katakan Mentri Puan Maharani, sekolah yang satu ini malah mengeluarkan siswanya dua sekaligus dengan bersamaan.

Yang parahnya lagi kedua anak tersebut ternyata sudah duduk di bangku kelas VII,dimana siswa tersebut akan menghadapi ujian semester pada bulan Desember 2017 mendatang.

Salah satu orang tua siswa dari Muhamad Israq Ramadhan Sultoni mengungkapkan kepada wartawan Kamis (09/11/17) melalui Sambungan telepon selulernya dengan nada kesal karena anak nya di keluarkan tanpa di cari pengganti sekolah yang baru.

” saya merasa sekolah ini tidak memiliki kemanusiaan dan tidak memiliki sifat seorang guru pendidik yang baik,karena seorang Guru maupun Kepala Sekolah harus jelih dan memiliki emosional yang stabil dan juga Kalau pun anak saya salah kan tidak fatal,yg saya khawatirkakan setelah keluar dari sini apa bisa kepala sekolah menjamin anak saya lebih baik lagi di sekolah lain,dan apa tidak malah sebaliknya” katanya.‎

Lanjut sultoni,anak saya memang bandel tapi bandel nya dia hanya telat sampai ke sekolah kemudian kata guru dia kadang saat jam belajar dia duduk di warung itu saja tidak ada kenakalan yang fatal saya rasa,yang fatal itu sebenarnya ada salah satu guru kesiswaan di hadapan kami dan kepala sekolah, ia dengan nada tinggi mengatakan kalau anak itu berdua tidak keluar maka saya yang akan keluar dari sekolah ini, ungkap sultoni mempraktekkan pernyataan salah seorang guru di SMAN 11 Pekanbaru. ‎

Paparnya lagi,‎Justru yang saya sayangkan kepala sekolah SMAN 11 Pekanbaru Rasidan mengeluarkan anak saya dari sekolah tanpa di carikan sekolah baru bagi anak saya,sementara anak saya dalam waktu dekat akan menghadapi ujian semester pada bulan Desember 2017 mendatang,ucapnya emosi.
‎‎
Di akhir, sultoni selaku orang tua siswa‎ meminta kepada Dinas Pendidikan Provinsi Riau ,Dewan Perwakilan Rakyat Riau dan Mentri pendidikan agar memberikan sanksi sekolah SMAN 11 Pekanbaru yang telah mengeluarkan anak saya tanpa memberikan solusi.

Sementara dikutip dari situs resmi www.kemendikbud.or.id  dari pernyataan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswedan saat masih menjabat mengatakan Ia menjelaskan, Dinas Pendidikan dan lembaga pendidikan harus berkonsultasi untuk mencari solusi agar siswa bersangkuta tetap bersekolah.

“Mungkin solusinya siswa bersangkutan dicarikan   sekolah baru, tidak boleh anak diberhentikan dari sekolah dan itu keliru,” ujarnya.

Ia mencontohkan, orang tua yang melihat anaknya melakukan perbuatan keliru tentu tidak mungkin orang tua langsung mengatakan si anak berhenti menjadi anaknya.

“Demikian juga lembaga pendidikan jangan mengambil sikap memberhentikan siswa dari sekolah, tetapi sebaliknya harus didik lebih jauh lagi,” ujarnya.

Ia mengatakan, seorang anak datang ke sekolah berbeda dengan pegawai yang datang ke kantor.

“Kalau anak datang ke sekolah jika melakukan perbuatan yang keliru maka harus didik lebih jauh lagi, tapi kalau pegawai datang ke kantor terus melakukan tindakan melanggar tentu konsekuensinya adalah sanksi atau bisa saja diberhentikan,” ujarnya.‎

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here