Meminjam Suara Tuhan

0
129
views

Apakabarkampus.com-

Diujung Kamis awal Oktober yang disambut riuh sibuknya jumat pagi, aku berdiri di tepi jalan raya Tamalate.
Menerima kabar duka dari corong kendaraan yang mengepulkan asap hitam
Aku mengeja lewat tangisan udara yang disesaki polusi di bait pertama

Di bait pertama aku hampir menangis
Kemarin pagi anak-anak Papua menenteng alas kaki, mengenakan pakaian yang diseragamkan
lalu digiring menuju kandang babi yang katanya gedung sekolah
Mengganjal perut dengan rebusan batang sagu
Sementara tuan hanya menertawainya dari puncak menara parlemen

Negara ini sudah dirusak
Tiang penyangganya telah dibengkokkan perumus sejarah palsu
Tubuhnya diperkosa asing tanpa ampun ke dasar liangnya
Raganya ringkih menahan jutaan ton beton yang menjelma menjadi belantara gedung
Nyawanya terdorong oleh budaya pop sampai di ubun-ubun, kemudian mati tersihir mantra despacito

Di bait ke-3 aku mulai yakin bahwa Negara ini benar-benar rusak
Kegigihan bangsanya sudah tergerus pesatnya teknologi cepat saji
Keberaniannya tenggelam di tengah lautan darah manusia
Saling memangsa tak kenal etika

Mahasiswa mulai sibuk berkampanye sebagai agen perubahan, tetapi nyalinya hilang di atas lembar surat edaran
Sampai akhirnya adinda kepala botak menjadi sasaran beringas pengikut setia bak peliharaan

Aku melemparkan mataku ke pucuk pohon cemara
Jatuh di rantingnya yang rapuh
Tersentuh daunnya yang mengeluh ditumpuki debu jalanan bahkan embunpun enggan menyapa

Di pucuk cemara itu aku menemui bait ke-4
Berkisah tentang padi yang terguyur keringat petani
Dipupuk oleh rasa lelah dan dirawat oleh susah payah
Sampai pada masa panen, petani hanya mendapati kulitnya legam terbakar matahari,
Tubuhnya kurus tak terurus
Hidupnya susah dibayang-bayangi masa depan suram anak cucunya sebab hasil panen telah direnggut yang tuan

Tiba di bait ke-5 aku meminjam suara Tuhan
Anakku, aku tak malu compang-camping karena kemiskinanku
Aku tak matah jua jika kelak menjadi bahan cemoohan atau bahkan bahan guyonan mereka
Tanggalkan dasi kebesaranmu, lucuti pakaianmu lalu hiduplah sepertiku
Jangan seperti mereka yang rapi dan berdasi tetapi urusan nasi harus korupsi

Di bait ke-6 aku terduduk
Mengepulkan asap temba sambil menikmati sisa hidup
Ku raih pena dan selembar kertas
Ku tulis besar-besar di atasnya “BAIT KE-7”

Bait ini sengaja ku kosongkan
Agar anak-cucuku biar mengukir sejarahnya di bait ini
Bahagiakah? Kelamkah?
Semua terserah padamu anakku.

Penulis: Widyawan Setiadi (Bang O)

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here