Nahwu Gantung Seperti Benda Pusaka di Sulawesi Barat.

2
500
views

Apakabarkampus.com – Kitab Nahwu Gantung hasil karya Ustadz Abdul Syahid Rasyid Pengasuh Yayasan AlloBiqar Pengajian Wai sudah melegenda di Sulawesi Barat Polman, khususnya di Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa.

“Dulu waktu saya mengajar Nahwu, saya selalu tulis, hapus, tulis, hapus, dan akhirnya saya sadar, ini memakan banyak waktu. Sampai akhirnya inspirasi itu datang ketika saya ikut kursus Bahasa Inggris dengan menggunakan silabus materi,” ujarnya saat ditemui di kediamannya. Pambusuang, Ahad (10/6).

Ustadz Abdul Syahid Rasyid, Annang Guru sekaligus pengasuh Yayasan Allobiqar Pengajian Wai Pambusuang.

Sejak itu, kata Ustadz Syahid. karena santri semakin banyak yang berdatangan, maka saya semakin terdorong untuk membuatkan kerangka agar pembelajarannya efektif, lanjutnya.

“Saya menulis Nahwu itu pada tahun 1997 dan selesai di tanggal 29 Maret. Tapi saat itu belum ada namanya, sampai ada seorang santri yang saya lupa namanya siapa, memberi nama dengan Nahwu Gantung karena setiap sudah belajar, Nahwu itu digantung dan disimpan dalam pipa pralon.”

Nahwu gantung yang sudah melegenda itu tersimpan dalam pipa pralon hitam sebesar betis orang dewasa, itu dikarenakan gulungannya terlalu besar karena media yang ditempati menulis adalah kertas Board dengan ukuran lebar 75 cm dan panjang 100 cm.

“Jadi gantung itu istilah lama dalam salaf, orang dulu kalau menulis selalu membuat catatan di bawahnya. Dan Nahwu gantung yang saya bikin adalah konsep yang tak pernah saya pikirkan akan dibukukan saya hanya menulis saja seadanya ketika itu, makanya tulisannya seperti cakar ayam,” sambil tertawa bersama, Ustadz Syahid bertutur.

Kitab Asli Nahwu Gantung Terdapat 25 Lembar.

Dalam Nahwu Gantung ini memiliki metode yang berbeda dengan Nahwu lainnya. Nahwu ini pun yang digunakan oleh guru-guru yang ada di Pambusuang.

“Setau saya yang disampaikan oleh teman teman kepada saya, bahwa metode gantung ini dipakai oleh seluruh teman-teman Pambusuang dan yang menjadi pembeda dengan Nahwu lainnya adalah, kitab Nahwu Gantung ini satu-satunya yang memiliki harakat,” ungkapnya.

Menurutnya, ini adalah sesuatu yang lucu tapi itulah menariknya karena satu-satunya Kitab Nahwu yang memulai dengan berkharokat, jadi aneh, tapi ini lah keunikan dan point pentingnya.

“Yang uniknya lagi, Metode di Nahwu Gantung itu saya tidak mementingkan kaidah, karena kaidah itu hanya pengantar agar santri mengerti. saya tidak membebani kepada santri untuk menghafal banyak kaidah, melainkan saya menggunakan pendekatan budaya dan bahasa ibu masing-masing, sesuai dengan gaya mereka karena ini cepat dipahami.”

Setelah mereka mengerti apapun kaidahnya apapun alasannya yang penting masuk akal, pas, bagaimanapun gayanya, itu diterima, sambungnya.

 

“Saya berencana untuk membukukan in syaa Allah tapi lebih kepada soft file saja, sehingga semua orang yang butuh dengan Nahwu Gantung itu bisa diprint sendiri di manapun ia berada.”

Beberapa santriwati dari Ponpes lain yang masih tinggal sampai menjelang akhir Ramdhan.

“Target Februari 2019 pas 50 tahun In Syaa Allah di umur emas saya, kitab Nahwu Gantung itu sudah akan terbit. Saya memohon do’a kepada khalayak dan kepada adzatidz agar Allah memberikan kelancaran dalam pembukuan kitab Nahwu ini,” pungkasnya.(*)

Adji.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here