Review: Sastra Jendra Hayudiningrat Pangruwatin Diyu

0
5
views

Apakabarkampus.com – Pada saat memegang dan membaca judulnya, yang terlintas dibenaku adalah buku ini kayaknya keren deh. Mungkin karena saya penggemar buku sastra jadi judulnya sangat berpengaruh. Pada saat membuka halaman pertama langsung pada bab satu. Heran juga karena biasanya kalo baca novel itu banyak pengantar didepannya. Kupikir mungkin cara baru kali dalam buat buku.

Seteleh membaca hingga ke halama 6 barulah terlihat kata pengantarnya. Entah karena kesalahan pada penjilidan yang kurang teliti atau memang sengaja agar pembaca langsung membaca bagian dari novel ini.

Pada bab awal hingga pertengahan bab 3, isinya hanya menjelaskan keabsuran nama dari tokoh dalam novel yang bernama Sudrun. Dalam bahasa jawa artinya ketidakwarasan, kegilaan , kesablengan. Beberapa kalimat dalam penulisannya selalu mengulang – ulang kata “sudrun” untuk menegasankan dirinya.

Meskipun demikian, penulis yang menggunakan sudut pada pertama dalam penceritaannya ini, dengan sangat pelan – pelan mengajak pembaca memahami tokoh Sudrun yang sebenarnya. Bahwa teryata, ia adalah seorang yang cerdas dan jujur. Hanya saja paradigma yang dibentu dimasyarakat saat itu tidak dapa memahami karakter dan cara berfikir Sudrun, sehingga orang pada umumnya akan menganggap bahwa ia adalah orang gila.

Pada bab 1, penulis yang memposiskan dirinya sebagai Sudrun ini menceritakan bagaimana ia memprotes pada seorang kiai bernama Brudin. Sudrun sangat kesal karena kiai Brudin menganggap dirinya sudah mencapai tahap makrifat sehingga tidak perlu lagi melakukan sholat. Sudrun protes dengan gaya kurang ajar, ia menangkis dalil dari kiai dengan menganalogikan Rasulullah saja masih sholat hingga akhir hayatnya, kenapa sang kiai begitu sombong hingga tidak mau lagi sholat.

Analogi yang kedua adalah ia menganalogikan sang kiai dengan pembangkangan iblis ketika diminta bersujud kepada nabi Adam. Hal ini sontak mengundang amarah besar sang kiai yang berakhir dengan tindakan fisik yang berhasil dihalau bahkan dibalas Sudrun hingga sang kiai bersuujud di kakinya.

Pada bab kedua, Sudrun menjelaskan dirinya sebagai seorang lelaki yang nakal dan memiliki nafsu yang besar. Hingga dia bisa sangat beringas meraba teman perempuannya, hal inipun tertular kepada temannya Mat Aksan. Meski demikian gila, Sudrun masih memegang teguh ajaran islam dengan tdk sampai pada perzinahan. Ada sebuah ungkapan yang unik yang dikatakannya bahwa orang yang berzina itu diyakininya dapat merusak sesuatu dalam diri manusia, sehingga Allah pun melarang mendekatinya.

Pada bab ini dia menceritakan soal ketertarikanya pada seorang teman SMP yang bernama Ita Martina. Ia membayangkan ita dalah seorang manusia yang terbuat dari lilin, meski kenyataannya Ita tetaplah manusai biasa.

Kegilaannya ini memaksa ia untuk mengirimkan surat hingga menelpon Ita. Pada hari ulang tahun Ita, ia bahkan meminta adiknya untuk mengiriminya boleka kelinci. Waktu yang semakin berlalu membuat Sudrun sedikit gelisah menunggu balasan surat dari Ita. Bahkan ia mendengar dari adiknya yang diam – diam menyelidiki Ita, bahwa ita telah memiliki kekasih.

Lelaki aneh ini malah tertawa dan bahagia. Ia sangat realistis bahwa dirinya saat itu masih bukan siapa – siapa. Untuk menghidupi dirinya saja ia masih terkadang harus mengutang. Jikapun Ita memutuskan untuk bersama lelaki lain, ia merasa bahwa itu pantas.  Kegelisahannya akan sebuah bisikan aneh memaksanya menelpon Ita lagi. Diluar dari dugaan, Ita ternyata membayangkan Sudrun dengan imajinasi yang sama aneh dan luar biasannya dengan diri Sudrun. Ita bahkan sangat antusias menjelaskan bahwa ia sangat menyukai kelincahan Sudrun , bahkan jika ia menonton film Tarzan wajah Sudrunlah yang ia bayangkan. Pada akhir percakapan, Ita meminta Sudrun bersabar untuk menunggu balasan suratnya.

Nuasansa yang berbeda dituliskan di Bab 3, Sudrun yang tidak sengaja bertemu dengan  seorang guru dalam perjalananya yang tak jelas pada suatu malam. Menampilkan sisi lain dari Sudrun yang tidak terekspose sembelumunya. Romo Noyogenggong, ia adalah seorang guru kebatinan yang bertemu dengan Sudrun di jalan. Perkenalan mereka yang diwarnai saling olok mengolok dan tertawa terpingkal – pingkal mengantarkan mereka menjadi seorang teman.

Sudrun menceritakan selalu mendapatkan bisikan aneh bahwa jika ingin mengenal Allah, belajarlah pada iblis. Romo Noyogenggong menanggapi hal ini dengan bijak bahwa hal ini ada kaitanya dengan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu yang dulu dikuasai oleh sunan Kalijaga. Permasalahan yang muncul adalah tidak adanya referensi tertulis ataupun baku mengenai hal ini. Sastra Jendra Hayuningrat ini hanya dikenal dari mulut ke mulut. Sang romo pun tidak mengetahui pada siapa ilmu ini bisa dipelajari.

Walaupun demikian, hal ini tidak menyurutkan niat Sudru untuk mencari tahu. Ia berpamit dengan sungkem kepada Romo Noyogenggong dan diberikan pesan untuk tidak meninggalkan sholat apapun yang terjadi. Karena sholat adalah jembatan pengantar pada tujuan. Isi buku ini memiliki banyak pejalaran dan penjelasan ilmu – ilmu batin.

Meskipun diselingi dengan kegalauan hati dari si Sudrun yang masih manusia yang sepintas terlihat urakan. Ulasan – ulasan ilmu kebatinan diurai dengan detail. Jenis gendrenya adalah semifantasi dengan inti sari ajaran agama yang disampaikan jelas. (Irma Muhsen)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here