Politik dan Eufemisme

0
136
views

Apakabarkampus.com – OPINI MAHASISWA – Diskursus politik menjelang Pilpres 2019 mendatang, telah mengalami berbagai gejolak yang cukup hangat sebagai bahan perbincangan bagi publik.

Saling sindir menyindir antar kubu capres dan cawapres pun tak terelakkan. Salah satu kubu merespon segala kritikan yang diberikan kepadanya dengan memunculkan politik sontoloyo. Sedangkan di kubu yang lainnya malah diintervensi dengan pernyataannya terkait tampang boyolali.

Sungguh, ini merupakan sesuatu yang sangat riskan, semua itu terjadi pada tokoh-tokoh yang menyatakan kesiapan dirinya untuk memimpin republik ini.

Kita ketahui bersama bahwa, salah satu Capres merupakan sosok yang masih berstatus sebagai Presiden di republik ini. Akan tetapi, politik oportunis lebih diprioritaskan oleh rezim neolib sebagai suguhan yang jika kita telisik lebih mendalam, maka kita akan menemukan suatu realitas bahwa, ejawantah yang dipertontonkan oleh rezim hari ini, tidak lain hanyalah sebagai pengalihan perhatian publik terhadap persoalan substansial yang seharusnya lebih diprioritaskan.

Pada tanggal 28 September 2018, terjadi gempa dengan kekuatan 7,7 SR yang mengguncang Palu, Sigi, Donggala dan sekitarnya yang disusul dengan tsunami dengan menelan korban ribuan jiwa.

Akan tetapi, di lain sisi, pemerintah justru sibuk mempersiapkan pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF)–World Bank (WB) di Nusa Dua, Bali, pada tanggal 08 s/d 14 Oktober 2018 yang menghabiskan uang negara sebesar Rp.1,1 triliun. Bahkan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan dana untuk mendukung pertemuan IMF-WB 2018 mencapai Rp.6,9 triliun (tirto.id 03 Oktober 2018).

Pada tanggal 08 Oktober 2018, pukul 20.00 WIB. Syike Febrina Laucereno–detikFinance mengabarkan bahwa, nilai tukar rupiah terhadap mata uang sejumlah negara tercatat mengalami pelemahan. Dari data Reuters, nilai dolar AS tercatat Rp.15.219, dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) tercatat Rp.15.193.

Dari pantauan detikFinance di sebuah money changer Bank Nasional Indonesia (BNI) di Bali International Convention Center (BICC) Nusa Dua, US$ 1 dijual dengan harga Rp.15.300. Sedangkan untuk harga beli di patok Rp.14.900.

Demikian pula dikutip dari data perdagangan Reuters, Senin (08/10/2018) dolar AS pada hari ini bergerak dari level Rp.15.185 hingga Rp.15.299.

Jika merujuk ke beberapa pekan sejak Senin, 08 Oktober 2018, rupiah tercatat sudah mengalami pelemahan hingga 1,72%. Tak Cuma dolar AS, dolar singapura juga terus menguat terhadap rupiah.

Pada persoalan lain. Pada tanggal 10 Oktober 2018, pemerintah secara diam-diam kembali menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium. Namun, sejam berselang pemerintah kemudian mengumumkan pembatalan kenaikan BBM jenis premium.

Diberitakan oleh CNN Indonesia pada tanggal 12 Oktober 2018 pukul 20:58:03 pihak istana mengakui jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung menghubungi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan dan memerintahkannya untuk menunda kenaikan harga BBM jenis premium.

Staf Khusus Presiden Johan Budi S mengatakan, perintah diberikan Jokowi usai Jonan mengumumkan kenaikan BBM jenis premium pada Rabu (10/10) petang lalu.

Johan mengatakan informasi mengenai perintah penundaan tersebut ia dapat langsung dari Jokowi. Johan tidak mengetahui siapa yang memerintahkan kenaikan BBM kepada Jonan.

Setelah mendapatkan informasi dan data, Jokowi menyimpulkan kenaikan harga BBM belum diperlukan.
Padahal, sebelumnya Jonan telah mengumumkan pemerintah akan menaikkan harga BBM jenis premium, untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali.

Harga BBM akan dinaikkan dari Rp.6.550 menjadi Rp.7.000 per liter. Sementara itu, untuk wilayah di luar Jawa, Madura, dan Bali, harga premium dinaikkan dari Rp.6.400 menjadi Rp.6.900 per liter. Kenaikan tersebut rencananya mulai berlaku Rabu sore atau setelah PT Pertamina (Persero) siap.

Itulah beberapa Persoalan-persoalan yang cukup substansial dan berusaha dipoles semegah mungkin, hingga mampu menurunkan tingkat kepekaan publik, yang di mana semua itu akibat racun eufemisme yang dibumbui dalam berbagai opini, baik pada media masa maupun media elektronik. Singkat kata, agar semuanya bisa tertutupi dari publik, itu saja.

Inilah sedikit dari sekian banyak kerusakan yang mencuat kepermukaan akibat diterapkannya Ideologi Kapitalisme dengan paham Liberalisme dan akidah Sekulerismenya, sehingga para penggerus kesejahteraan rakyat makin menggila dengan di keluarkannya berbagai macam kebijakan yang dapat menghisap darah rakyat. Termasuk pemerintahan yang oportunis dengan metode tiraninya.

Untuk itu, sudah saatnya kita kembali pada fitrah kita, yaitu dengan hidup dalam lingkungan yang mempunyai pemikiran yang satu, perasaan yang satu, kemudian dilindungi oleh aturan yang satu, yaitu Islam.

Sejarah telah membuktikan, hanya Islam yang mampu mendirikan sebuah peradaban selama 1.300 tahun lamanya, dengan memberikan kesejahteraan di segala sektor, baik pada bidang politik, sosial, budaya, pendidikan, ekonomi.(*)

Penulis : Fajar (Anggota Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komsat UMI).

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here