Arkeologi Mahasiswa Islam

0
135
views

Apakabarkampus.com – Opini – “…Gerakan mahasiswa mempelajari kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu. Kesalahan yang terjadi tiada lain berpisahnya mahasiswa dengan rakyat yang merupakan kekuatan massa.” (Aji Teja).

Prelude dari petuah Aji Teja di atas memberikan petunjuk untuk menggali sedalam-dalamnya kronik Mahasiswa. Terutama sejarah mahasiswa Islam. Serta berupaya menemukan segala artefak yang telah dibuat oleh Mahasiswa Islam di masa silam. Sebab narasi sejarah pernah dikendalikan oleh kolonialis.

Patah tumbuh hilang berganti. Setiap yang telah berlalu tidak berjalan di ruang hampa. kerap ada peristiwa yang kadang dikenang di dalam sejarah. Termasuk peristiwa sejarah pemuda dan mahasiswa.

Yang menjadi tanda tanya adalah apakah informasi sejarah yang sampai ke kita hari ini merupakan objektif sesuai dengan fakta sejarah?. Inilah pentingnya membedakan antara fakta sejarah dan sudut pandang penulis terhadap sejarah yang dideskripsikan.

Di beberapa banyak tulisan saat membahas fase mahasiswa, biasanya berangkat dari organisasi Budi Utomo. Karena Budi Utomo dianggap sebagai organisasi yang di dalamnya dianggotai oleh pelajar-pelajar dari STOVIA. Terus terang penulis tidak sepakat dengan itu. Semacam ada pemaksaan sejarah untuk membenarkannya.
Ada yang tidak klop antara Budi Utomo (BU) dengan Mahasiswa itu sendiri. Menurut Adi Suryadi Culla. BU ini adalah organisasi yang terlalu kental obsesi kebesaran kebudayaan jawanya. Primordialisme jawa yang sangat kuat. Salain itu, nomenklatur Mahasiswa belum dipakai. Terlebih lagi BU banyak anggotanya yang bukan pelajar.

Di tahun yang sama 1908 para mahasiswa Indonesia yang sedang melajar di Belanda juga membentuk sebuah organisasi yang diberi nama Indische Vereeninging. Lalu kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereenenging di tahun 1922. Tiga tahun kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia.

Kedua organisasi inilah yang menjadi embrio lahirnya Politisi-politisi nasional yang cenderung sekuler. Seperti Soetomo, yang membentuk Kelompok Studi Indonesia (Indonesisce Studie-Club) pada tanggal 29 Nopember 1924 di Surabaya. Dari klub studi inilah yang kelak bermutasi menjadi Partai Bangsa Indonesia(PBI).

Kita tahu bersama kalau Soetomo merupakan jebolan Budi Utomo. Demikian pula di Bandung pada 11 Juli 1925 dibentuk Kelompok Studi Umum (Algeemene Studieclub) yang dimotori oleh salah satu mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yakni Soekarno. Kelak kelompok studi ini juga menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Tahukah kita, kalau Soekarno adalah aktivis yang pernah aktif di Perhimpunan Indonesia?

Perihal Budi Utomo lebih jauh kita telusuri. Pada tahun 1926 didirikan Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (PPPI) yang tokoh-tokoh pendirinya berasal dari Trikoro Darmho. Sementara Trikoro Darmho nama lain dari Jong Java. Maksudnya sebelum diberi nama Jong Java dahulunya disebut Trikoro Darmho.

Jong Java adalah organisasi pemuda yang berafilisasi ke Budi Utomo. PPPI inilah yang menginisiasi lahirnya Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda II pada tanggal 26-28 Oktober 1928 yang berlangsung di Jakarta.

Sampai di sini kita paham kalau produk Sumpah Pemuda dihasilkan oleh Pelajar yang sama sekali tidak berafiliasi ke organisasi-organisasi yang berbasis Islam. Patut diduga bahwa mereka (PPPI) sejak awal tidak menginginkan ada nuansa Islam di dalam isi teks Sumpah Pemuda tersebut sehingga Kongres Pemuda didesain sedemikian rupa oleh yang sepemikiran dengan Jong Java dan Budi Utomo.

Oleh sebab itu representasi Islam tidak pernah ada dalam Kongres Pemuda II hingga melahirkan Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda murni hasil kesepakatan para pemuda sekuler yang menolak Islam terintegrasi di segala gatra kehidupan.
Di Jong Java saja para anak-anak muda Islam tidak mendapatkan wadah yang signifikan. pada kongres Jong Java ke-6. Syamsurizal yang merupakan anak dari tokoh Sarekat Islam terpilih sebagai ketua. Berselang beberapa lama memimpin, Sam(Sapaan Syamsurizal) merasakan adanya diskriminasi terhadapa anggota yang beragama Islam dalam kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh Jong Java.

Jong Java memiliki layanan kursus agama Kristen. Ketika Sam menginisiasi ingin menambah program kursus untuk agama Islam, Usul Sam malah ditolak melalui mekanisme voting. Penolakan inilah yang dalam istilah Mohammad Roem disebut blessing in disguise. Sehingga syamsurizal beserta pemuda-pemuda Islam lainnya memutuskan untuk menanggalkan pakaian Jong Java lalu kemudian mendirikan Jong Islamiten Bond(JIB) pada tanggal 1 januari 1925.

Dengan memilih Haji Agus Salim selaku penasehat, JIB sejak awal berdirinya bertujuan untuk mengkaji, memajukan dan mengembangkan ajaran Islam. sehingga wajar saja sekaliber Haji Agus Salim yang dipilih untuk menerangkan Islam kepada mereka.
Namun ketika beberapa aktivis pimpinan JIB telah menjadi mahasiswa menyadari kalau JIB tidak bisa menjadi wadah untuk dunia mahasiswa. Jusuf Wibisono dan Mohammad Roem yang merupakan anggota JIB mengusulkan untuk mendirikan sebuah perhimpunan Islam bagi mahasiswa sebagai kelanjutan dari JIB di ruang lingkup kampus.

Usulan ini kemudian diwujudkan dengan membentuk Studenten Islam Studieclub(SIS) di Jakarta pada bulan Desember 1934 yang diketuai oleh Yusuf Wibisono. Tujuan SIS sebagaimana ditegaskan oleh A. Karim dalam pidatonya bahwa hasrat terbesar SIS untuk mengislamkan kaum intelektual yang semakin asing dari ajaran agamanya sendiri.

Makanya dalam buletin bulanan yang diterbitkan diberi nama Moslimse Reveil(Kebangkitan Jiwa Islam). Prawoto Mangkosasmito Ketua terakhir partai Masyumi mengaitkan antara SIS dan HMI yang berdiri 13 tahun kemudian. Bahwa benih-benih HMI berasal dari SIS yang dibubarkan paksa oleh Jepang pada tahun 1942.

Postkolonial, menjamurlah organisasi mahasiswa Islam. Yang pasti tujuan awal organisasi mahasiswa Islam dibentuk dalam upaya untuk mengetahui, memahami, menghayati dan mengamalkan seluruh ajaran Islam yang pada saat itu muda-mudi Islam silau dengan tsaqafah asing dan gaya hidup masyarakat Eropa yang tanpa disadari akan mereduksi identitas keislamannya.

Lalu, apakah Mahasiswa Islam hari ini berhimpun atas rasa bangga akan identitas keislamannya?… To be Continued.

Penulis : Suljaris Djamil (Aktivis Mahasiswa Islam)
Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here