Langkah Kapitalisme Mengiringi Mudik Hari Raya

0
141
views

Apakabarkampus.com – OPINI – Era Industri Indonesia meneruskan langkahnya dengan memberi banyak kejutan pada rakyatnya. Jika sebelumnya Rakyat dipertontonkan dengan dagelan pemerintahan penuh intrik, dagelan politik asuhan, dagelan koruptor segudang sampai dagelan salah penginputan dan banyak dagelan lainnya. Dan kini tiba masanya dagelan baru terlahir.

Kenaikan harga-harga di pasaran sudah menjadi makanan tahunan bagi masyarakat negeri +62. Sudah menjadi rahasia publik bahwa permainan harga tak terlepas dari peran kapitalisme yang bercokol di negeri ini. Beberapa hal mungkin dimaklumi. Walau menerima dengan berat hati, toh hidup harus tetap dijalani. Belum lagi ini adalah kebijakan dari pemerintah yang dulu mereka pilih.

Meski tak sesuai harapan yang disematkan selama ini, akhirnya rakyat harus tetap menerima kenyataan pahit yang kembali menimpanya. Tidak habis derita sosial yang mendera, kini transportasi pun bermasalah.
Misalnya saja kenaikan tarif tol tertinggi yaitu dari Rp 1.500 menjadi Rp 12.000 dengan kenaikan sebesar 8 kali lipat atau 800%.

Luar biasanya adalah, kenaikan tersebut dilakukan secara tertutup dengan dalih pemindahan gerbang tol (GT) dari Cikarang Utama ke GT Cikampek dan GT Kalihurip Utama untuk mencegah kemacetan. Namun kebijakan tersebut justru memunculkan kemacetan parah di Gerbang Tol sampai berjam-jam.

Atau harga tiket pesawat yang kenikannya berkali lipat. Kemarin sempat viral harga tiket yang mencapai 21 juta untuk penerbangan domestik. Bahkan lebih murah membeli tiket keluar negeri ketimbang keluar kota. Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bandar Udara Abdulrachman Saleh Suharno menerangkan kebenaran kenaikan harga tiket tersebut.

“Kenaikan harganya hampir 11%. Ini yang tadi saya bilang perlu mendapat perhatian,” tegasnya.

Dari 82 kota IHK, sebanyak 39 kota mengalami inflasi tiket pesawat a.l. Banjarmasin sebesar 23% dan Surakarta sebesar 16%.

Kenaikan Harga yang fantastis bagi rakyat negeri kaya, ini menggiring mereka mau tidak mau, suka tidak suka mencari jalan lain untuk bisa mewujudkan berkumpul dengan sanak keluarga di hari bahagia. Banyak dari situs terbaru memberitakan bahwa pada moda kapal laut penumpang membludak meski mengalami kenaikan harga, sebab kenaikannya tidak separah moda trans darat dan udara. Lebih dari itu moda kapal laut lebih berisiko dari segi keselamatan penumpang.

Djoko menilai sejak melambungnya harga tiket pesawat, masyarakat beralih menggunakan transportasi lain misalnya angkutan laut dan darat. Namun dalam mudik tahun ini, kenaikan pengguna transportasi akan teralih lebih banyak di angkutan laut.(sumber portal bisnis.Com)

Dalih untuk mengurai masalah di negeri ini malah memberi ruang untuk masalah baru bermunculan. Lagi dan lagi tanpa henti. Darat, laut bahkan udara semuanya membuat rakyat menderita. Inikah kebijakan untuk rakyat yang kalian manfaatkan suaranya demi melanggengkan kekuasaan?

Mungkin muncul pertanyaan, mengapa hal tersebut terjadi? Padahal pemikir dari kebijakan ini bukan sembarang pemikir, titelnya wah, sekolahnya luar biasa, kemampuannya tak diragukan lagi, tapi kenapa? Jawabannya sederhana. Karena SISTEM.

Sistem hari ini memberikan ruang bagi kapitalisme melenggang angkuh, tak memperdulikan lagi nasib rakyat kecil yang menjerit. Yang bermodallah yang berkuasa. Sebab uang adalah segalanya di sistem rusak ini.

Pada akhirnya Sistem melahirkan Penguasa yang tidak bertanggung jawab dalam meri’ayah rakyatnya. Kembali yang menjadi korban kebringasan kapitalisme adalah rakyat yang memberi cinta pada negerinya yang justru negerinyalah yang menyuguhkan mereka derita.

Lantas apa lagi yang bisa diharapkan dari negeri tercinta? Jika masih saja yang kaya berkuasa dan yang miskin terasing meski ia berada di negerinya sendiri.

Seyogyanya kebijakan lahir untuk membantu setiap rakyat yang bernaung dalam payung negara yang sama, bukan berpihak pada pemilik kuasa dan pemilik usaha saja. Selayaknya aturan lahir untuk memberi ruang tawa bahagia, bukan derai air mata menjelang mudik hari raya. Seharusnya pemerintah melaksanakan tugasnya, menjadi pelindung dan pengayom serta pelayan bagi rakyatnya.

Tapi apa daya, berada dalam sistem Demokrasi Kapitalisme meniscayakan kekecewaan, tak peduli rakyatnya, terasing di negeri sendiri. Seperti tikus yang mati di lumbung padi.

Wadah yang kotor hanya akan mengotori setiap isinnya maka kita tak boleh lagi berharap lebih pada wadah tersebut. Sejatinya sistem buatan manusia itu kotor. Di dalamnya penuh dengan tipu muslihat dari nafsu serakah para pengusungnya.

Andai saja kita ingin sedikit membuka hati, kembali merenungkan bagaimana dulu kesejahteraan dalam segala lini memang pernah terjadi.

Dulu karena begitu khawatirnya atas pertanggungjawaban di akhirat sebagai pemimpin, Khalifah Umar bin Khaththab ra. berkata , “Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah SWT, ‘Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?’”

Para Khalifah dulu memimpin bukan karna tamak akan harta dan kekuasaan. Mereka memahami benar sabda Baginda Rasulullah saw.:

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُ

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka”. (HR Ibn Majah dan Abu Nu’aim).

Sabda Rasul saw. yang lain:

اَلإِمَامُ رَاعٍ وَ هُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari).

Mereka memimpin bukan karena kepentingan dirinya apalagi segelintir pemilik kuasa di balik layar hitam bernama kapitalisme. Bukan!

Maka benarlah bahwa hanya penerapan Islam secara kaaffahlah yang akan mengubah segalanya, meniscayakan sejahterah dalam naungan Khilafah.

“Jabatan (kedudukan) itu pada permulaannya penyesalan, pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan akhirnya adalah azab pada Hari Kiamat (HR Ath-Thabrani). Wallahu a’laamu bishshawab.

Penulis : Habibah Nafaizh Athaya (Anggota WMJ)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here