Keberanian Yang Tak Tertandingi

0
90
views

Apakabarkampus.com – Sekitar 14 abad yang lalu, Rasululllah Saw., pernah bersabda di sebuah hadist

“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah”. (HR. Sahih Bukhari dan Muslim).

Di saat menelaah maksud dari hadist di atas, maka dapat ditarik kesimpulan manfaat dari olahraga tersebut. Selain sebagai ibadah, juga menyehatkan tubuh.

Misalnya olahraga berkuda; meningkatkan kebugaran fisik. Jadi fisik yang bugar seharusnya akan dimiliki oleh penunggang Kuda. Menunggang Kuda akan meningkatkan keseimbangan dan koordinasi tubuh untuk mengahadapi rintangan.

Olahraga berenang; mampu melatih pernafasan agar lebih kuat dan panjang dan meningkatkan kekuatan otot. Dan yang terakhir olahraga memanah; melatih individu-individunya untuk menang, berani, fokus, dan melatih logika. Jadi, walaupun fisik bugar, otot kuat, cepat, fokus dan sebagainya. Tetapi keberanian yang tidak ada, maka perubahan tidak akan pernah ia dapatkan.

Teringat sebuah kisah seorang sahabat Rasul yang pendek dan kurus, tidak seperti umumnya orang-orang Arab. Tetapi dalam ilmu-ilmu keislaman, khususnya dalam Al Qur’an, ia jauh nelampaui para sahabat pada umumnya.

Ketika masih remaja, Abdullah bin Mas’ud bekerja mengembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’aith, salah seorang tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Nabi Saw. Di saat itu pula memberanikan diri menjadi seorang Muslim ketika melihat dan mengalami secara langsung mu’jizat Rasulullah Saw.

Ibnu Mas’ud sangat takjub melihat pemandangan tersebut, ia mendekati Rasulullah Saw. dan minta diajarkan kata-kata yang diucapkan-Nya. Maka beliau menyampaikan tentang risalah Islam yang beliau bawa, dan seketika itu Abdullah bin Mas’ud memeluk Islam.

Nabi Saw. memandang cukup intens kepadanya, kemudian bersabda, “Engkau akan menjadi seorang yang terpelajar”.
Tentu saja Ibnu Mas’ud tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Nabi Saw, apalagi saat itu ia hanyalah seorang miskin yang mencari upah dengan menggembala kambing milik orang lain. Tetapi di sela-sela waktu senggangnya, ia selalu mendatangi majelis pengajaran Nabi Saw., yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sejak sebelum beliau menggunakan rumah Arqam bin Abi Arqam. Sedikit demi sedikit pengetahuannya makin bertambah, bahkan dengan cepat ia mampu menghafal dan menguasai wahyu-wahyu, yakni Al Quran.

Suatu ketika Rasullullah Saw., ingin ada seseorang yang membacakan Al Qur’an kepada orang-orang Quraisy karena mereka belum pernah mendengarnya, dan ternyata Abdullah bin Mas’ud yang mengajukan dirinya. Tetapi Nabi Saw. mengkhawatirkan keselamatannya, beliau ingin orang lain saja, yang mempunyai kerabat kaum Quraisy, yang bisa memberikan perlindungan jika ia disiksa. Tetapi Ibnu Mas’ud tetap mengajukan diri, bahkan setengah memaksa, sambil berkata, “Biarkanlah saya, ya Rasulullah, Allah pasti akan membela saya”.

Sungguh suatu semangat besar yang didorong jiwa muda yang berapi-api, sehingga kurang mempertimbangkan keselamatan dirinya. Dan tanpa menunggu lagi, ia berjalan ke majelis pertemuan kaum Quraisy di dekat Ka’bah, dan Nabi saw., pun membiarkannya. Sampai di sana, ia berdiri di mimbar di mana orang-orang Quraisy biasanya melantunkan syair-syair mereka, dan mulai membaca ayat-ayat Al Qur’an dengan mengeraskan suaranya. Yang dibacanya adalah Surah Ar-Rahman.

Orang-orang kafir itu memperhatikan dirinya sambil bertanya, “Apa yang dibaca oleh Ibnu Ummi Abdin itu?” Saat itu mereka belum mengetahui kalau Ibnu Masud telah memeluk Islam, jadi mereka membiarkannya saja untuk beberapa saat lamanya.

Salah satu dari orang Quraisy itu tiba-tiba berkata, “Sungguh, yang dibacanya itu adalah apa yang dibaca oleh Muhammad.”

Mereka pun bangkit menghampiri, dan memukulinya hingga babak belur. Namun selama dipukuli, ia tidak segera menghentikan bacaannya, sebatas ia masih mampu melantunkannya. Ketika mereka berhenti memukulinya, ia segera kembali ke tempat Nabi SAW dan para sahabat berkumpul.

Melihat keadaan tubuhnya yang tidak karuan akibat pukulan-pukulan tersebut, salah seorang sahabat berkata, “Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi pada dirimu.”

Tetapi dengan tegar Ibnu Mas’ud berkata, “Sekarang ini tak ada lagi yang lebih mudah bagiku daripada menghadapi musuh-musuh Allah tersebut. Jika tuan-tuan menghendaki, esok saya akan mendatangi mereka lagi dan membacakan lagi surah lainnya.”

Mereka berkata, “Cukuplah sudah, engkau telah membacakan hal yang tabu atas mereka.”

Kisah tersebut mengajarkan arti sebuah keberanian. Walaupun tidak bercirikan seperti orang yang bertubuh kekar, tetapi keberanian tertanam dalam jiwa yang berapi-api. Pesan guru di saat menyampaikan sebuah ilmu pada muridnya, di saat itu pula penulis mendengarkan apa yang disampaikannya.

Guru itu berkata, “olahraga itu, ada 3 yang disunnahkan. Berkuda menggambarkan kecepatan, berenang menggambarkan kekuatan dan memanah menggambarkan akurasi. Dan ketiga-tiganya itu dimiliki oleh para sahabat. Kecepatan dimiliki oleh Khalid Bin Walid, Kekuatan dimiliki oleh Umar Bin Khattab dan Akurasi dimiliki oleh Sa’ad Bin Abi Waqqash.

Tetapi pada perang Tabuk, Rasulullah Saw., memilih Ali Bin Abi Thalib sebagai wakil panglima perangnya yang merupakan pemuda pemberani,” Sambung guru itu menjelaskan “ibaratnya jika kalian ingin menikah, tapi tidak berani mendatangi rumah calon mertua. Biar kau gagah, kuat, cepat dan sasaranmu selalu akurat, tidak akan diterima tong ko itu.”

Para murid tertawa mendengarkan inspirasi dari seorang guru.

Tapi, pada kali ini. Penulis tidak membahas persoalan keberanian mendatangi rumah calon mertua. Karena itu problem yang sifatnya internal. Sedangkan ada pembahasan yang jauh lebih urgent yang membutuhkan semangat dan keberanian jihad melawan para musuh-musuh Allah.

Masa sebelum diutusnya Rasulullah Saw., sebagai Nabiullah, peradaban bangsa Arab yang merupakan peradaban zaman jahiliyah yang memiliki kebiasaan buruk seperti minum-minuman keras, berjudi berzina, dan menyembah berhala. Namun di saat melihat kondisi umat saat ini, kebiasaan buruk itu terulang kembali dengan konsep yang modern.

Misalnya invasi pemikiran (Ghazwul Fikri) adalah usaha suatu bangsa untuk menguasai pemikiran bangsa lain (kaum yang diinvasi), lalu menjadikan mereka sebagai pengikut setia terhadap setiap pemikiran, idealisme, way of life, metode pendidikan, kebudayaan, bahasa, etika, serta norma-norma kehidupan yang ditawarkan kaum penginvasi.

Invasi pemikiran jelas-jelas bermaksud merusak tatanan masyarakat Islam, mengganti norma dan budaya Islam dengan budaya Barat dan menjauhkan umat Islam dengan diennya sendiri.

Garis besar langkah mereka kerja mereka adalah; (1) Merusak Islam dari segi Aqidah, ibadah, norma dan akhlak. (2) memecah dan memilah kaum muslimin di muka bumi dengan sukuisme dan nasionalisme sempit. (3) menjelek-jelekkan gambaran Islam. (4) Memperdayakan bangsa Muslim dengan menggambarkan bahwa segala kemajuan kebudayaan dan peradaban dicapai dengan memisahkan bahkan menghancurkan Islam dari masyarakat.

Contoh lain dari zaman jahiliyah modern yang selalu diproklamirkan oleh para penjajah Islam sebagai salah satu produk Ghazwul Fikri adalah Sekularisme, Kapitalisme, Materialisme, metode ilmiah positivisme dan modernisasi. Ancaman berupa sanksi ekonomi, perdagangan maupun politik (hubungan luar negeri) lebih mengerikan lagi. Mengarah pada menimbulkan rasa ketakutan yang berlebihan bangsa-bangsa Muslim yang terjajah.

Dari berbagai sumber masalah tersebut, harus pula dilawan dengan keberanian. Mulai mempelajari Islam, mengamalkannya dan mendakwahkannya. Hingga terdengarnya seruan jihad fii sabilillah oleh seorang khalifah. Sehingga mulai dari sekarang, mempersiapkan fisik, mental dan ilmu untuk melawan para tirani penjajah. Sebagaimana para pendahulu kaum Muslimin dengan semangat jihad yang berapi-api, yang tak gentar dan takut melihat banyaknya jumlah pasukan musuh.

Akhirnya dengan semangat dan keberanian itu, melahirkan kisah yang cukup fenomenal yaitu kabar pembebasan kota Konstantinopel dan Roma. Rasulullah Saw., pernah ditanya oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash, “dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu, Konstantinopel atau Roma? Rasul menjawab, ‘kota Heraklius dibuka lebih dahulu.’ Yaitu, Konstantinopel’.”

Sejak dikabarkannya pembebasan ini. Layaknya sebuah sayembara, janji yang disebutkan, memotivasi setiap pemimpin untuk merealisasikannya. Sejarah mencatat bahwa upaya serius penaklukan Konstantinopel telah berlangsung sejak masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan (668 M).

Upaya pembebasan terus berlanjut, hingga akhirnya setelah 8 abad berlalu, Allah mengabulkan impian umat Islam tersebut melalui kepemimpinan Sultan Muhammad Al-Fatih, pemimpin ke-7 dari Daulah Islamiyah pada tanggal 29 Mei 1453 M.

Bayangkan bagaimana kesabaran dan perjuangan umat Islam dalam mewujudkan bisyarah Rasulullah Saw., hingga harus menanti 785 tahun lamanya menaklukkan kota Konstantinopel.

Penyebutan Roma setelah Konstantinopel tampaknya merupakan mukjizat tersendiri, karena hingga sekarang Roma merupakan simbol agama Nasrani dan juga peradaban Romawi (Barat). Akan tetapi yang pasti adalah pembebasan Roma tidak akan terjadi kecuali setelah umat Islam memiliki kekuatan yang sangat besar, yaitu kekuatan yang seperti atau bahkan melebihi kekuatan umat Islam tatkala membebaskan Konstantinopel. Kekuatan itu hanya dapat terjadi ketika dalam tubuh umat Islam telah berdiri Khilafah yang ditegakkan berdasarkan metode kenabian.

Bukan tugas kita untuk memastikan kapan itu terjadi, sebab ini merupakan perkara ghaib. Namun bila dicermati lebih dalam, ada banyak kesamaan karakter perjalanan dalam merealisasikan janji tersebut, yaitu tidak lepas dari Jihad Fii Sabilillah, pengerahan pasukan, dan peperangan besar di akhir zaman.

Tugas umat Islam bukan menunggu, tapi terus mempersiapkan diri agar bisa bergabung dengan mereka bila Allah menakdirkannya mengalami zaman tersebut. Dan salah satu Persiapannya adalah mencintai Jihad Fii Sabilillah dan mengondisikan agar siap untuk berjihad. Kalau bukan kita, maka persiapkan diri untuk anak cucu kedepannya. Wallahu ‘Alam Bishawab.

Penulis : Asrul Arsyad (ketua LK-USWAH)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here