Dekadensi Peran Mahasiswa

1
113
views

Apakabarkampus.com – OPINI – Mahasiswa kehilangan peran. Kini lakon yang sejatinya apik dimainkan oleh Mahasiswa justru dilakoni oleh Emak-emak. Yup, setidaknya asumsi itu yang kini terbentuk dalam benak masyarakat.

Mahasiswa kembali dipertanyakan keberadaanya, seoalah-olah mahasiswa kini menjelma menjadi makhluk yang apatis. Dalam terjemahan kamus besar Bahasa Indonesia apatis berati acuh tak acuh; Tidak peduli; masa bodoh.

Apa yang lebih menyenangkan selain menikmati hidup tanpa beban, tak perlu risau dengan persolan-persolan yang terjadi di sekitar apalagi di negeri yang semrawut ini, ditemani perut yang tetap berisi dan semua barang mampu terbeli.

Apa gunanya hidup menggelandang, tubuh tak terurus apalagi mengurus keluarga lalu turun ke jalan bersuara atas nama rakyat Indonesia. Bung Karno dan Bung Hatta saja perlu izin menggunakan “atas nama rakyat Indonesia” dalam teks proklamasi. Wajarlah si Mahasiswa, orang-orang yang merasa paling tahu dari seorang ahli yang perlu sekolah bertahun-tahun.

Kepentingannya adalah sebuah kebenaran dan keadilan yang perlu diperjuangkan. Peristiwa 98’ atau penggulingan orde baru selalu jadi wacana andalan dalam membangkitkan optimisme perjuangan. Kurang literasi, tapi jago berkoar. Selalu menuntut hak tapi lupa pada kewajiban. Aturan yang mengekang kebebasannya adalah hal yang perlu dilawan.

Pada warsa ini, mahasiswa bukan lagi sosok yang agung utamanya di mata masyarakat, berbeda dengan sosok mahasiswa di zaman TV masih berwarna hitam-putih atau radio menjadi barang mewah. Konon menurut cerita pendahulu mahasiswa adalah orang yang dihormati dan menjadi kepercayaan masyarakat, namun seiring menjamurnya mahasiswa di sudut-sudut kota hingga pelosok desa, tidak membuat kepercayaan yang telah dibangun semakin mengakar melainkan tercerabut secara perlahan.

Bukannya ini perlu menjadi evaluasi diri bagi kita yang merasa mahasiswa, sebab sudah seharusnya kita memawas diri, jangan sampai kepercayaan itu benar-benar lepas tak tersisa.

Akhirnya, selamat datang di lingkup mahasiswa, lingkup yang begitu kompleks lebih kompleks dari sengketa hasil pilpres kemarin. Kehidupan kampus yang memberi banyak pengalaman untuk bekal hidup di belantara dunia selanjutnya.

Transisi karakter juga turut terpengaruh dalam lingkup ini. Si Malas bisa saja bertransformasi menjadi si Rajin atau sebaliknya. Jangankan karakter, ideologi pun mampu tergadai jika tak dipeluk erat-erat. Strategi defensif perlu matang agar tak terjebak arus dan hanyut ke dalamnya.

Postulat yang terbentuk dari mahasiswa adalah orang-orang yang bebas, dan merdeka, baik diri dan pikiran. Hal ini juga didukung oleh konstruksi film-film atau sinetron yang memberikan sumbangsih besar dalam membentuk paradigma masyarakat.

Tak ayal jika hal ini yang terus diperjuangkan, sekalipun sesekali memperjuangkan hak rakyat. Menjadi mahasiswa memang berat, sebab banyak soalan yang perlu ditangguhkan pada bahunya. Bukan hanya sebagai akademisi, mahasiswa juga perlu mengambil peran dalam penghubung kaum digdaya dan kaum paria sekalipun.

Beban yang begitu berat dan sarat akan konsekuensi, membuat mahasiswa lebih memilih jalur tol “bebas-hambatan” daripada mencebur dan mati tenggelam. Sebab acuh dan apatis adalah pilihan, semua orang berhak memilih tanpa paksaan.

Masing-masing orang punya cara untuk mengekspresikan kepedulian mereka terhadap Bangsa ini, suatu golongan tidak perlu mengkultuskan diri bahwa golongannyalah yang paling peduli dan golongan lain adalah golongan apatis.

Mari berjuang dengan cara kita sendiri, selama yang kita cita-citakan adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak perlu saling bersinggungan, cukup berjalan berdampingan.

Meminjam ungkapan dari karya Pramoedya A.T dalam Bumi Manusia mengatakan “Seorang terpelajar harus juga adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”(*)

Penulis : Nugrawati (Mahasiswi Pend. Adm. Perkantoran FIS UNM)

Editor : Adji

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here