Chaidir Syam di Mata Gurunya, Ia Selalu Mencium Tangan Gurunya

0
25
views

Apakabarkampus.com — Saya sebetulnya mengajar Chaidir Syam waktu kelas satu tahun 1992-1993, dan dia tamat tahun 1995. Saya punya pandangan tersendiri dengan anak ini. Chaidir Syam adalah sosok anak yang tidak pernah melupakan gurunya. Itu yang membuat saya terkesan. Sewaktu kuliah dia mungkin sibuk dengan kegiatan di kampus makanya tidak sempat menyapa. Ketika selesai, dia menjadi anggota dewan. Saya memang selalu mengikuti perkembangannya. Saya mengucapkan selamat dan selalu mengingatkan jika keberhasilan dan kesuksesan itu bukan hanya dari pribadimu, Nak. Tetapi dari masyarakat Maros, itu yang harus kamu camkan, Nak.

“Jangan lupa dengan mereka yang ada di bawahmu, Nak. Kamu ada di situ karena dukungan mereka”, kenang Hj. Sri Sulastri, S.Pd, Guru Matematika SMA Negeri 1 Maros. Yang jelas, setiap saat kalau saya mendengar ada berita-berita apa, saya langsung cepat menghubunginya. Kalau bukan ke dia, saya hubungi istrinya. Karena kebetulan istrinya itu satu angkatan saat masih sama-sama di bangku sekolah.
Pastinya sosok Chaidir sudah saya anggap sebagai anak sendiri. Kalau ada susahnya pun biasa juga tanya-tanya atau sharing-sharing ke saya. Begitupun sebaliknya, jika saya punya masalah saya juga sharing ke dia. Meski saya lebih tua darinya. Pada saat saya susah dan mengeluarkan air mata, dia bilang ini adalah air mata kesedihan bunda. Saya tidak mau lagi lihat bunda menangis karena bersedih. Dia itu sosok yang sangat sederhana, luwes, supel dan beberapa masyarakat mengatakan hal yang sama. Contohnya, saya punya keluarga di Carangki. Waktu kemari pemilihannya lepas, mereka sayangkan kenapa sampai lepas begitu.

Saya mengajar dia di mata pelajaran Matematika, anak-anak mengenal saya guru yang sangat galak dan bahkan memberi julukan Macan, galak, sangar segalanya ada sama saya. Tapi hal itu tidak membuat saya surut untuk mendidik, membina dan mengajar mereka. Pikir saya itu tanggapan mereka, namanya juga anak-anak. Saya yakin suatu saat nanti pasti mereka akan tahu apa tujuan saya memperlakukan seperti itu.

Nah inilah buktinya sekarang, ternyata mereka masih mengingat saya. Sistem saya dulu kalau mengajar dari awal masuk itu tahun ajaran baru, saya tidak mengajar dulu. Tapi saya membuat satu komitmen bersama anak-anak yang berlaku selama satu tahun. Jadi apa yang saya lakukan itu mereka tidak akan protes karena sebelumnya sudah ada perjanjian.

Jadi kalau tidak kerja PR satu nomor itu, mereka dapat satu kali cubitan dan cubitannya itu tidak main-main. Pastinya bukan cubitan kebencian tapi cubitan karena cinta kepada mereka. Chaidir juga pernah kena cubitan itu. Istrinya dan sahabat-sahabatnya juga yang pasti tak tebang pilih.

Tapi setelah berjalan satu dua bulan mereka membentuk kelompok belajar dan mereka meminta saya untuk membimbingnya, itu inisiatif mereka bukan saya yang minta. Itu berlanjut sampai ke kelas dua tapi saya sudah tidak mendampinginya berhubung saya waktu itu sudah memiliki anak.

Alhamdulillah semua yang masuk dalam kelompok belajar itu berhasil semua sekarang ada yang jadi dokter, ada yang jadi pengusaha, ada pegawai di keuangan dan ada lagi di Haji Kalla. Mereka tidak pernah pisah, setiap ada waktu senggang mereka manfaatkan untuk kumpul-kumpul. Sampai saat ini kebersamaan untuk masyarakat dia bina.

Mereka selalu bersama seperti rekreasi ke Balu. Kebersamaanya tidak pernah lepas. Di situ, saya tidak bisa mengucapkan dengan kata-kata. Kepala waktu kelas satu namanya Pak Muhammadiyah letak rumahnya di Jl Mangga berdekatan dengan Rujab Bupati.

Harapan saya untuk ananda Chaidir saat menjadi Ketua DPRD Maros, jangan pernah berubah. Tetapi begitulah yang saya rasakan. Dari sisi kesederhanaannya, rasa hormatnya terutama untuk pribadi yang saya rasakan. Dimana pun ia berada, dimana dia ketemu dengan saya, anandaku tetap mencium tangan saya. Biar dia bersama para pejabat tetap mencium tangan saya. Setiap kali saya ke pesta kalau ada undangan, kaget juga kalau kebetulan lihat dia, eh ada lagi anandaku. Bisa saya ketemu sampai dua kali sehari, biasa saya ingatkan, “Nak jaga kesehatan. Malah dia bilang, tujuh untuk hari ini bunda,” itulah dia tidak melupakan orang-orang yang ada di bawahnya. Selama dua periode Alhamdulillah saya selalu pantau. Rata-rata orang mengatakan bahwa dia adalah orang baik, tapi pastinya yang namanya manusia pasti ada kekurangannya.

Semoga semua bisa terwujud dengan memiliki pasangan yang bisa mendukung. Karena suami hebat kalau pasangannya tidak bisa berbuat apa-apa itu namanya pincang. Saya doakan juga agar dia bisa dapat partner yang bisa diajak bekerja sama dan bisa membuat Maros ini menjadi KEREN.

Harapan saya karena periode ini anakku tidak menjabat jadi ketua, saya katakan Nak ambil hikmahnya barangkali ada sesuatu yang lebih yang akan kamu dapatkan. Selama kau baik maka orang akan selalu hargai kamu Nak, apapun posisimu. Nyatanya saja dengan dua kecamatan kamu memperoleh suara terbanyak. Harapan untuk ke depannya supaya bisa maju di Pilkada ini. Ini kan rencana, semoga Allah SWT dapat mengabulkannya. Saya berharap dia bisa menggapai itu. Semoga Maros ini bisa lebih baik ke depan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here