Bersosmed Boleh Saja, Bijaksana Jangan Lupa!

0
215
views

Apakabarkampus.com – OPINI – Perkembangan teknologi membuat informasi berseluncur secara mudah bagi penggunanya. Hal ini tentunya seperti mata uang yang selalu punya dua sisi; sisi positif dan negatif tentunya. Maka dari itu penting untuk bijak dalam menggunakan teknologi apalagi yang berkaitan dengan dunia maya sosial media, baik selaku pemberi maupun penerima informasi.

Namun dewasa ini terjadi fenomena yang cukup menggelitik nalar berpikir penulis. Bagaimana tidak? Setelah diamati dewasa ini kesadaran perlahan dikonstruksi oleh sosial media, baik melalui berita di Instagram, Facebook, Youtube, Twiter, Whats App dan media sosial lainnya.

Sosial media menjadi ajang propaganda yang selalu menarik perhatian netizen, sayangnya sering kali sosial media mengalahkan propaganda realitas sosial.

Coba saja amati bagaimana banyaknya orang bersimpati pada postingan di sosial media yang memuat anak kecil atau kakek usia senja berjualan atau menjadi pemulung dengan bantuan instrumen melankolis, netizen atau kita langsung menyerbu admin untuk meminta alamat rumah atau tempat pangkalnya.

Hal ini tentu berbeda respon ketika realitas sosial yang disajikan di depan mata, banyak anak jalanan dan lansia tuna wisma yang membutuhkan uluran tangan bahkan letaknya di sekitar kita dan bisa kita jumpai setiap harinya.

Namun ternyata beberapa di antara kita mengabaikan bahkan beberapa orang menganggapnya penganggu dan lebih parahnya memperlakukan mereka dengan tidak manusiawi. Padahal mereka sama sekali tidak menginginkan hidup demikian, mereka lahir dari negara yang tak mampu menjalankan tugasnya mensejahterakan rakyat sesuai amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Bahkan kalangan terdidik tak jarang hanya menjadikan mereka objek penelitian semata, objek survey dan objek lainnya yang sama sekali tidak berguna bagi mereka. Datanya hanya dijadikan bahan presentase atau di musim politik namanya dijual untuk mendapat suara, mereka tak benar-benar punya itikad baik menyelesaikannya.

Lebih parahnya mereka hanya dijadikan objek yang perlu dikasihani, para aktivis yang siang malam menjadikan mereka bahan diskusi di warung kopi hingga pagi tak berbuat apa-apa untuk menolongnya. Sepeberapa persen saja yang benar-benar serius menghadapi persoalan yang didiskusikan. Diskusi hanya dijadikan alat gaya-gayaan retorika atau adu argumentasi tanpa bukti.

Ditambah lagi belakangan ini sedang viral konten Youtube yang melakukan prank kepada tukang ojek online dengan berpura pura membatalkan pesanan dengan jumlah besar, mungkin ada niat baik di belakangnya, namun tak etis jika berbuat baik harus terlebih dahulu dibuat sakit hati, seolah air matanya bisa dibeli dengan uang.

Kita seharusnya lebih peka pada realitas sosial yang ada, menjadi terdidik seyogianya menjadikan manusia punya rasa kemanusiaan yang memanusiakan, bukan justru sibuk bersaing memperkaya diri lewat jalan memiskinkan orang lain.

Pemerintah harusnya menjadi orang pilihan yang berpihak pada rakyat, bukan justru bersepakat bagi kursi kekuasaan yang menyengsarakan rakyat.

Oligarki semakin kuat, semua saling jilat, kebijakan yang dibuat tak ada yang waras, demi kekuasaan dan uang, idealisme bisa dijajahkan, ujungnya rakyatlah yang menjadi tumbal. Sungguh, negeri ini butuh orang waras yang tidak menghamba pada uang dan juga tidak sekadar bicara.

Ini baru sepersekian dari pelbagai masalah lucu yang tak layak ditertawakan di Indonesia, untuk masalah lain silakan pembaca amati, semoga menjadi bahan refleksi bagi kita semua, agar lebih waras dalam bernegara.

“Mari kritis untuk jadi cerdas,
Mari cerdas untuk menjadi manusia
Mari menjadi manusia untuk memanusiakan manusia
Jangan sampai kita hanya menjadi budak yang disekolahkan tanpa pernah dimerdekakan.”

Penulis : Besse Mapparimeng A.Lauce (Staf Media dan Propaganda BEM UNM)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here