Kaum Muslim Sedunia Bersatulah

0
78
views

apakabarkampus.com – OPINI – Mengutip dari laman BBC NEWS (19/Desember/2018) yang memberitakan bahwa pada Agustus 2018 komite PBB mendapat laporan bahwa hingga satu juta warga Uighur dan kelompok kaum muslim lainnya ditahan di wilayah Xinjiang Barat, dan di sana mereka menjalani apa yang disebut dengan program reedukasi (pendidikan ulang).

Meski pemerintah China membantah dan menganggap itu hanya tudingan belaka dari kelompok-kelompok HAM. Namun pada saat yang sama semakin banyak dan semakin menebarlah bukti-bukti kekerasan dan kekejaman yang dilakukan oleh rezim di sana.

Apalagi setelah bocornya dokumen rahasia yang kini menggegerkan publik. Adalah Aisye Abdulaheb menurut pengakuannya kepada surat kabar Volkskrant bahwa dia yang telah membocorkan dokumen itu. Dia mengatakan dokumen tersebut dipajang di sebuah media sosial pada Juni lalu. Dia pun mengaku sejak saat itu, dirinya mendapati pesan ancaman kematian dari agen mata-mata China. Bahkan Aisye melaporkan bahwa intelijen China pun telah mencoba merekrut suaminya untuk memata-matai dirinya. (Baca selengkapnya di CNN Internasional; China Kebakaran Jenggot Usai Dokumen Soal Uighur Bocor, 16/12/2019).

Adapun dokumen yang bocor itu di dalamnya berisi panduan agar supaya pemerintah Urumqi melakukan kendali sosial, yaitu menangkap etnis Uighur secara acak meski mereka tidak melanggar aturan atau berbuat kejahatan. Mereka nantinya akan dikirim ke kamp untuk dicuci otak supaya mengadopsi nilai-nilai komunisme ketimbang Islam, dan mengubah bahasa mereka, (CNN Internasioanal, 16/12/2019).

Kekacauan dan kejahatan yang telah dilakukan oleh rezim China terhadap etnis Uighur di Xinjiang, bukan lagi sesuatu yang dapat ditutup-tutupi oleh kaki tangan mereka yang bekerja di setiap parlemen negara. Bahkan yang sangat disayangkan di Indonesia sendiri baru-baru ini sangat mengagetkan dengan adanya dugaan penyumpalan mulut beberapa ormas Islam di Indonesia dengan uang dan beberapa macam bantuan lainnya agar tak ikut serta mengkritisi kejahatan rezim Komunis China terhadap saudara kita muslim Uighur yang dikenal minoritas di sana. 

Bila kita coba kenali lagi lebih dalam bahwa, Muslim Uighur ini merupakan etnis Turki yang bermukim di bagian ujung barat China dan merupakan wilayah terbesar di negeri tersebut. Jumlah penduduknya mencapai 26 juta dan jumlah kaum muslim di sana mencakup setengahnya dari jumlah penduduk yang bermukim. Dan mereka telah lama mengalami penderitaan selama ini, sementara dunia hanya terdiam saja termasuk para pemimpin-pemimpin di negeri-negeri muslim hari ini.

Menurut Human Rights Watch, suku Uighur khususnya dipantau secara sangat ketat, mereka harus memberikan sampel biometrik dan DNA. Dan dilaporkan terjadi penangkapan terhadap mereka yang memiliki kerabat di 26 negara yang dianggap sensitif. Dan hingga satu juta orang telah ditahan. Dan kelompok-kelompok HAM mengatakan orang-orang di kamp-kamp itu dipaksa belajar bahasa mandarin dan diarahkan untuk mengecam bahkan meninggalkan keyakinan iman mereka, (BBC NEWS 19/Desember/2018).

Ini hanya beberapa kasus yang disampaikan oleh media-media dengan sajian data-data yang juga masih terbatas oleh ketatnya pengamanan rezim Komunis di China. Dan sudah teramat banyak media nasional maupun internasional yang menyajikannya kepada dunia dan menjelaskan kepada kita betapa kejamnya rezim di sana. Hanya saja yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang sudah dilakukan oleh dunia? Terkhususnya para pemimpin-pemimpin kaum muslimin seluruh dunia? Apakah memang yang bisa dilakukan sekelas pemimpin negara hanyalah melontarkan kalimat kecaman?

Sungguh lucu dan memilukan. Apakah kepemimpinan sekuat itu, memimpin sebuah negara di mana di dalamnya segala macam perangkat keras ada di sana, seperti militer dan seabrek peralatan tempurnya tersedia, dan yang bisa dilakukan hanya mengecam dengan kata-kata? Sekali lagi apakah itu sudah cukup? TIDAK!!! Bahkan anak TK pun bisa melakukan tindakan itu.

Lalu untuk apa segala macam alat perang dibeli jika bukan untuk memerangi para penjajah? Bukankah khususnya di Indonesia, ada UUD-45 yang mengilhami pembasmian atas penjajahan di seluruh dunia? Tapi mengapa sampai hari ini pemimpin yang sangat dikagum-kagumi oleh penyembahnya itu tak mau mengambil tindakan? Jangankan memerangi penjajahan, bahkan sekadar mengecam saja pun tidak dilakukannya.

Ataukah pemimpin negeri ini telah buta dan tuli, atau tiba-tiba mengidap penyakit post traumatic stress disorder (PTSD) karena mungkin merasa takut mati atau bahasa kerennya PENGECUT. Termasuk mungkin karena takut kehilangan salah satu investor terbesar di negeri ini?

Kalau kita melihat laporan investasi China di 2019 ini, memang sangat besar dan cukup membuat pemimpin yang tak berkharisma ini, kecut, dan ciut nyalinya, sehingga tak mampu melakukan perlawanan atas penjajahan secara fisik dan keyakinan yang telah dan masih sedang terjadi di Xinjiang sana.

“BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) mencatat realisasi investasi asal negeri tirai bambu selama kuartal 1/2019 mencapai US$1,15 miliar, naik 71,4 persen dibandingkan realisasi investasi pada kuartal 1/2018 senilai US$676,2 juta,” (Bisnis.com 14/Mei/2019).

Cukup menarik bukan? Jumlah yang relatif meningkat di tengah arus perang dagang Amerika-China, dan Indonesia tetap saja mencari posisi aman yang artinya menjadi posisi terdikte. Maka wajarlah jika kekacauan dan penjajahan di China sana tak berani digubris oleh rezim.

Termasuk jika melihat realitas pemimpin kaum muslimin di seluruh dunia yang hampir-hampir tak memiliki minat, eh, maaf, bukan tak berminat, melainkan tak bernyali dan tak bermental petarung melainkan hanya bermental budak, pesuruh dan kacung—ya itu lebih tepatnya. Nah, para pemimpin-pemimpin kaum muslimin di dunia ini, sungguh mereka sangat menyedihkan. Karena seolah mereka tak punya power untuk mengatasi kekejaman para penjajah yang terus-menerus menyiksa kaum muslimin, sebab mereka paling hanya berani berteriak-teriak mengecam lewat press confrence tanpa berani melawannya dengan aksi nyata dan fisik. Padahal mereka sudah tahu, kalau masalah yang menimpa kaum muslimin seluruh dunia ini merupakan masalah genting, terstruktur, sistematis dan level militer. Apatah lagi sudah mengancam eksistensi keimanan menyeluruh kaum muslimin di sana.

Dan celakanya lagi, para pemimpin negeri-negeri kaum muslimin seluruh dunia ini sadar, bahwa serangan yang terus-menerus menghujam kaum muslimin tertindas di seluruh pelosok dunia, dalam hal ini bukan hanya Uighur saja, tetapi juga palestina, Suriah, Myanmar, Kasmir, India dan yang lainnya—semua itu jelas adalah serangan militer yang merupakan perangkat negara. Di mana negara tersebut masing-masing menjadikan demokrasi sebagai sistem tata negaranya yang sudah jelas bobrok rusak dan merusak—termasuk yang mengilhami pembantaian terhadap muslim tertindas di seluruh dunia.

Lihatlah demokrasi itu. Katanya HAM akan tumbuh subur di sana, namun kenyataannya justru pembantaian yang seolah tiada akhir terjadi di seluruh pelosok negeri-negeri kaum muslimin. Dan lucunya yang terus-terusan dibantai adalah komunitas minoritas kaum muslimin dan dipaksa untuk meninggalkan keyakinannya, dirampas harta dan kehormatannya. Sementara pemimpin kaum muslimin seluruh dunia masih tetap nyaman berzina politik dengan negara-negara penjajah seluruh dunia.

Para pemimpin negeri-negeri muslim hari ini diduga kuat hanya sibuk mengurusi perut mereka sendiri, bahkan mereka rela melihat darah saudara-saudara kaum muslimin lainnya tertumpah oleh misi-misi jahat kapitalisme, di mana ekonomi dan politik menjadi instrumen mutakhir untuk menguasai hak-hak kaum muslimin, termasuk penguasaan lahan dan seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya. Dan sialnya, para pemimpin di negeri-negeri kaum muslimin ini tak bisa berkutik karena mereka pun sama bejatnya dengan para penjajah.

Termasuk dalih-dalih kotor nasionalisme merupakan penyebab kekuatan kaum muslimin ini terkungkung. Dan karena nasionalisme pula sehingga sabda-sabda Rasulullah akhirnya tenggelam oleh quotes-quotes para tokoh nasionalis yang menjarah kekuatan keimanan kaum muslimin. Akibatnya, korban jiwa kaum muslimin yang terus berjatuhan di belahan bumi lain nampak seperti tak penting bagi kita yang berbeda negara, oleh karena sekat nasionalisme. Bahkan dengan tanpa malunya melontarkan kalimat-kalimat hina seperti “Itu kan bukan di negara kita, sudahlah yang penting bukan kita yang ditindas, yang harus kita lakukan hanyalah bagaimana agar negara kita bisa aman dan damai.”

Ungkapan-ungkapan semacam itu merupakan ungkapan yang sangat tak terdidik dan kerdil, sebab mereka telah mabuk oleh kemewahan dunia dan telah diracuni oleh paham nasionalisme yang lemah dan melemahkan, paham yang rusak dan merusak. Sebab mendiamkan kejahatan yang sedang terjadi di belahan bumi lain, adalah kejahatan yang sama pula kadarnya kita lakukan bila hanya berdiam diri saja. Bukankah kita semua telah menjadi manusia durjana, yang sama bengisnya dengan rezim penindas karena kita mendiamkan kasus-kasus seperti ini?

Melihat fakta tersebut, rasa-rasanya tak ada gunanya mengharap bantuan para pemimpin-pemimpin negeri kaum muslimin yang telah menjadi budak-budak kapitalisme global. Sebab mereka telah menjual harga diri dan keimanannya demi kemewahan dunia yang sungguh menipu ini. Terlebih lagi, mereka hanyalah budak-budak setan kapitalisme yang kita tak tahu akan berapa kali lagi mereka mengkhianati kaum muslimin seluruh dunia.

Lalu apa solusinya?

Kita sudah tahu bersama, penindasan ini terjadi karena tidak adanya pelindung. Dan pelindung ini bukan sekadar komunitas semata yang siap melawan bersama-sama, bukan! Karena kekuatannya tidak seimbang. Mengapa demikian? Karena lawan kita hari ini adalah negara. Kaum muslimin terus ditindas lewat papan nama negara dengan berbagai macam instrumen digunakannya untuk menindas.

Setelah kita ketahui, bahwa masalah yang menimpa kaum muslimin hari ini adalah, karena tidak adanya pelindung dan basis kekuatan untuk melawan seluruh tetek bengek penjajahan ini. Maka sudah saatnya kaum muslimin seluruh dunia bersatu untuk menegakkan pelindung kita, dan satu-satunya sitem pelindung kaum muslimin adalah sistem dan bentuk negara yang berasal dari perintah Allah SWT., yakni institusi Daulah Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh seorang khalifah. Di mana seluruh kaum muslimin di dunia berlindung di bawahnya, dan seluruh kaum muslimin tertindas oleh musuh-musuh kita hari ini, akan tertolong lewat kekuatan Khilafah tersebut.

Dan ketika itu sudah tegak, maka pekerjaan PBB hari ini yang sungguh kurangajar tak tahu diuntung dan tak tahu malu itu–(silakan baca di buku Big Lie karya Francois Boyle),–akan kita gantikan perannya sebagai negara pemersatu dan menjadi basis kekuatan yang akan menghilangkan seluruh jenis-jenis penjajahan apapun yang telah dilahirkan oleh kapitalisme kotor sampah dunia, yang sampai hari ini kita menderita karena ulah dari pengemban dan pemuja kapitalisme-demokrasi.

Olehnya itu, seluruh kaum muslimin di dunia ini sadarlah. Lihatlah betapa menderitanya kaum muslim Uighur, lihatlah betapa dahsyatnya penderitaan yang ditanggung oleh saudara kita di Palestina, Suriah, Myanmar, Khasmir, India dan yang lainnya. Kaum muslimin selalu menjadi korban konspirasi negara kapitalisme, menuding kita sebagai kelompok ekstremis, teroris yang menakutkan, lalu setelahnya mereka masuk memerangi kita tanpa ampun dengan senjata lengkap, sementara kita dan saudara kita tak memiliki persenjataan cukup. Padahal yang mereka incar hanyalah isi perut bumi yang ada di negara kita.

Mereka menuding kita karena ingin mengambil segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Termasuk dengan nafsu birahinya mereka sengaja masuk memerangi kita dengan tuduhan klasik, demi merampas darah perawan saudari kita yang Rasulullah Muhammda Sallallahu alaihi wassallam., telah mempersaudarakan kita dengan iman.

Bangkitlah saudaraku. Mari kita ganyang neo imperialisme-kapitalisme hingga musnah berkalang tanah. Tak boleh ada seorang pun, apalagi dengan ide kapitalisme-demokrasi dan pengembannya yang najis itu menghancurkan kita lebih lama lagi. Sebab Allah SWT., telah menjanjikan kebaikan bagi orang-orang yang istikamah berjuang di jalan Allah, bangkit memerangi neo imperialisme-kapitalisme yang bau busuknya sangat menyengat menyumbat hidung kita, sampai-sampai kita tak lagi tahu, bagaimana semerbaknya aroma kenikmatan hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyah yang diridai oleh Allah Yang Maha ESA.

Pilihan ada di tangan para pengemban Islam hari ini, apakah kita akan terus tunduk dan tertindas, ataukah kita akan bangkit melawan demi Izzul Islam wa al-muslimin.(*)


Penulis : Adji (Mahasantri Sekolah Peradaban)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here