Ramadan Dan Covid-19

0
38
views

Hati siapa yang tidak terketuk bahagia mendengar bulan yang penuh rahmat dan berkah ini datang, ketika dalam hati makhluk tersebut memiliki rasa cinta dan iman yang kokoh kepada Allah SWT., maka yakinlah bahwa Marhaban ya Ramadan kita akan sambut dengan rasa penuh cinta dan kasih.

Sebab ini merupakan sebuah rukun Islam ke 3. Artinya, bagi mereka yang muslim dan memenuhi syaratnya, sesuai firman Allah tentang puasa ini, memiliki arti:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, Ayat 183.

Muhammadiyah menetapkan awal puasa 1 Ramadhan, pada 24 April 2020. Hal ini dijelaskan dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 01/MLM/I.O/E/2020 seperti yang diunggah pada situs resmi PP Muhammadiyah.

Namun demikian. Ramadan kali ini berbeda dengan ramadan tahun sebelumnya. Di mana kali ini kita harus mengawali bulan puasa bersama dengan Covid-19 ataupun Virus Corona yang telah menjadi pandemi di Belahan Dunia ini.

Di mana kita ketahui dalam bulan yang penuh berkah ini adalah bulan dilipatgandakannya pahala oleh Allah SWT., namun kali ini kita akan dianjurkan untuk beribadah di rumah masing-masing, padahal ada begitu banyak agenda yang sangat dirindukan: salah satunya tadarrus berjamaah di masjid, buka puasa bersama dan iktikaf di masjid.

Termasuk pula kita umat muslim juga percaya bahwa di Bulan Ramadan ini terdapat Malam Lailatul Qadr. Di mana nilai pahalanya itu seperti beribadah selama 1000 bulan.

Selain itu, ibadah Sunah lainnya yang dilakukan dalam ramadan yang biasanya kita berjamaah di masjid yaitu salat tarawih, pun kini kita harus melakukannya di rumah pada beberapa daerah dan wilayah-wilayah tertentu.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakkan, ketika covid-19 ini masih berlansung selama Ramadan maka Salat tarawih dilakukan di rumah masing-masing dan takmir tidak perlu mengadakan salat berjamaah di masjid, musala dan sejenisnya, termasuk kegiatan Ramadan yang lain (ceramah-ceramah, tadarus berjamaah, iktikaf dan kegiatan berjamaah lainnya). Mengingat, dalam kondisi tersebarnya Covid-19 seperti sekarang mengharuskan perenggangan sosial (at-tabud al-ijtim / social distancing).

Seketika itu pula, muncullah orang-orang yang berpaham sottaisme, orang itu mengatakan ,”takutlah kepada Allah, bukan takut kepada virus corona.”

Ini merupakan teologi neo-Jabariyah yang harus dijauhi menurut Fathurrahman Kamal, Lc, M.Si, (Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah).

Jabariyah adalah suatu keyakinan yang semata-mata mengajarkan kepasrahan terhadap takdir Allah. Karena pada dasarnya, ikhtiar tidak akan mengubah takdir seseorang. Ini merupakan suatu paham yang bertentangan dengan akidah ahlus sunnah wal jamaah.

Tokoh-tokoh agama harus mendukung pemerintah dalam mengedukasi masyarakat untuk bersama-sama waspada dan memerangi covid-19. Bukan malah menggembosi pemerintah maupun tenaga medis yang sedang berjuang di garda depan penanganan corona dengan narasi-narasi yang menyesatkan.

Termasuk saudar-saudara yang memliki pengetahuan walau itu hanya sedikit saja akan hal ini, marilah bersama-sama untuk menyampaikan kepada Masyarakat yang masih awam akan hal covid-19 dengan cara beribadah kita di bulan penuh berkah ini.

Semoga wabah ini segera berlalu dan diangkat oleh Allah SWT., dan kita semua bisa menjadi makhluk yang betul-betul beriman kepada Allah SWT.

Semoga ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita akan aktivitas yang telah lalai kita sadari, bahwa Allah masih mencintai kita dengan adanya cobaan ini. Tidak dikatakan seseorang beriman sebelum dia diuji oleh Allah SWT.

Tetap jaga Iman dan Imun. Sekaligus, saya selaku penulis mengucapkan, Marhaban ya Ramadan. Semoga ibadah kita di bulan penuh berkah ini bisa sampai kepada titik yang dicintai Allah SWT. Aamiin.

Penulis : Alex (Ketua Umum BEM FKIP UNISMUH MAKASSAR Periode 2019-2020.)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here