Pendidikan Dan Negara

0
19
views

Apakabarkampus.com – OPINI – Pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting di lini kehidupan. Salah satunya dalam tantanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal inilah yang memengaruhi bagaimana tantan politik, ekonomi, dan budaya dalam suatu Negara.

Dalam hierarkinya, suatu bangsa akan cepat maju dan berkembang itu ditinjau dari bagaimana kekuatan pendidikan yang dimiliki oleh rakyatnya. Mungkin nama Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara, dan Muhammad Hatta, tidak asing lagi di telinga kita, yang di mana perjuangan dan titipan mereka salah satunya adalah misi pencerdasan yang telah dilakukannya.

Negara kita Indonesia, dalam perkembangannya yang telah dilakukan oleh aparaturnya agar bagaimana memajukan pendidikan Indonesia, satu langkahnya di ranah kurikulum yang telah melalui perubahan begitu panjang. Dimulai dari kurikulum 75, hingga kurikulum 2013.

Namun, dari pengalaman masa lalu Indonesia, kita bisa melihat betapa krisis pendidikan telah memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat Indonesia.

Pada masa Orde Baru, politik dijadikan panglima. Segala kegiatan diarahkan kepada berbagai usaha untuk mencapai tujuan politik. Kecenderungan dalam politik, ekonomi, dan kebudayaan pada waktu itu, juga menyerang dunia pendidikan.

Praksis pendidikan diarahkan kepada proses indoktrinasi dan menolak segala unsur budaya yang datangnya dari luar. Dengan sendirinya pendidikan tidak difungsikan untuk meningkatkan taraf kehidupan rakyat. Selain itu, pada masa Orde Baru, pendidikan pun menjadi alat penyeragaman.

Diakui bahwa banyak yang telah dicapai oleh pembangunan selama Orde Baru. Dari salah satu bangsa termiskin di dunia menjadi kelompok bangsa-bangsa yang berpendapatan menengah. Namun, dalam aspek politik segala sesuatu diarahkan kepada uniformitas dalam berpikir dan bertindak.

Masyarakat homogen sebagai produk dari rezim Orde Baru menghasilkan berkembangnya kelas menengah yang lamban dan lemah, tidak kreatif dan tidak produktif, kemudian segalanya diarahkan oleh birokrasi yang kaku.

Pada posisi yang sama, keadaan politik dan sosial yang homogen telah mematikan kehidupan demokrasi. Pendidikan juga telah mengingkari kebhinekaan. Keadaan kehidupan sosial politik, hukum, dan kebudayaan tercermin dalam sistem pendidikan nasional hanya untuk mencapai tujuan kuantitatif.

Masuk di era reformasi. Pendidikan Indonesia kemudian lahir banyak tanda tanya di berbagai lapisan masyarakat. Salah satunya di kalangan mahasiswa, yang diketahui bersama bahwa Perguruan Tinggi memiliki Tri Dharma Pendidikan.

Menurut saya selaku penulis yang juga mahasiswa pendidikan, bahwa Pendidikan indonesia itu masih banyak hal yang harus dibenahi, khususnya di ranah tenaga pendidik. Hal ini dikarenakan dengan salah satu tanda keluarnya statment dari orang tua siswa yang mengatkan “… Guru orang dulu lebih baik daripada guru zaman sekarang.”

Hal ini menandakan bahwa masih ada tenaga pendidik yang kurang mendapat kepercayaan. Pemikiran saya ini mungkin disebabkan karena masih adanya yang memiliki sifat buruk semisal “Ah. Yang penting mengajar. Tak penting kalian mengerti atau tidak, itu bukan urusan saya.” Sehingga yang dilakukan hanyalah mengejar jam tayang saja. Begitu jam mengajar selesai, maka selesai pulalah kelas.

Di lain sisi, hal yang harus dievaluasi juga adalah, bagaimana pemerintah harus sigap betul terhadap pengawasan dan pelayanan kepada perguruan Tinggi yang menjadi wilayah cikal bakal lahirnya sosok pendidik. Dengan itu, pemerintah harus betul-betul bisa membaca bagaimana pendidikan di peruguruan tinggi.

Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, telah menyatakan Kampus Merdeka, namun hal ini masih kontroversial di tengah masyarakat ilmiah, karena masih ada sumber daya pengajar yang belum bisa melakukan secara jelas bagaimana kampus merdeka ini.

Guru sebagai salah satu produk perguruan tinggi, seakan kurang mendapat pengawasan terhadap pelaksanaan kurikulum yang berimbas pada anggapan negatif mengenai kompetensi guru-guru di lapangan.

Pengawasan terhadap kesenjangan kurikulum in document dan kurikulum in action menjadi faktor strategis untuk menguatkan perannya sebagai pengawal pendidikan. Sikap guru-guru mungkin bisa dipengaruhi karena masih ada yang merasa kewalahan ataupun masih ada elemen yang tidak dimiliki pada suatu lokasi pendidikan sehingga menghambat jalannya misi pencerdasan itu.

Yakinlah ketika pendidikan Indoensia betul-betul bisa sesuai dengan maksud Pancasila dan UUD 1945, maka kemiskinan, korupsi, kolusi dan nepotisme di Indonesia bisa dilenyapkan.

Selamat Hari Pendidkan 2 Mei 2020. Semoga dengan memperingatinya, bisa menjadi refleksi bagi kia dan juga aparatur negara, bahwa pendidikan adalah dimensi terpenting yang harus dimiliki.

Olehnya itu, seluruh aspeknya haruslah dibenahi sebagaimana mestinya dan bagi yang telah menjadi aparatur pendidikan. Ingatlah. Bahwa anda telah berani masuk ke wilayah pendidikan ini, maka anda berarti sudah siap secara mental dan ide, mau diapakan pendidikan Indonesia ini, jika tidak sanggup atau sekadar ada saja, maka lebih baik keberadaan anda ditiadakan.

Penulis : Alex (Ketua Umum BEM FKIP Unismuh Makassar Periode 2019-2020)

Editor : Adji

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here