Memaksa Jiwa

0
31
views

Oleh: Ma’arif Amiruddin
Founder Pajokka Event
Public Speaker
Praktisi Property Syariah

Ramadhan telah berlalu, lantas apakah amalan-amalan selama Ramadhan juga akan ditinggalkan sebagaimana Ramadhan meninggalkan kita?

Tentu itu bukanlah hal yang diharapkan, bahkan seharusnya amalan-amalan yang dikerjakan selama Ramadhan akan terus kita kerjakan diluar bulan Ramadhan, bahkan lebih baik lagi jika ada peningkatan. Karena orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin adalah orang yang beruntung, sementara orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin adalah orang yang celaka, dan orang yang hari ini sama saja dengan hari kemarin adalah orang yang merugi.

Maka sepantasnyalah kita berlomba-lomba untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin, memanfaatkan waktu dengan semaksimal mungkin dalam hal kebaikan, agar waktu tidak menjadi belati yang menebas usia. Karna waktu ibarat pedang, jika kita tidak mampu menggunakannya untuk menebas maka dialah yang akan menebas kita.

Fenomena yang terjadi dibeberapa individu kaum muslimin, sontak mengiris hati saudara muslim lainnya. Betapa tidak, mereka terlihat begitu semangat dalam ibadah ketika bulan Ramadhan dan luluh lantah entah kemana di luar bulan suci tersebut.

Kita adalah hamba ALLAH, bukan hamba Ramadhan! Maka seharusnya kita menyembah ALLAH disepanjang masa bukan hanya di bulan Ramadhan saja.

Dan ini memerlukan konsistensi yang besar. Dan memerlukan latihan yang tidak sebentar.

Konsisten memang berat, namun itulah yang dicintai oleh ALLAH. Ia mencintai amalan yang berkelanjutan walaupun hanya sedikit.

Nabi saw. bersabda: “Amalan yang paling ALLAH cintai adalah yang paling berkelanjutan meski hanya sedikit.” (HR Muslim).

Salah satu cara terbaik untuk tetep konsisten adalah dengan paksaan, ya … harus dipaksa!

Jiwa harus dipaksa untuk konsisten dalam ketaatan, jika tidak, maka akan cenderung mengikuti hawa nafsu yang menyesatkan.

Paksalah diri untuk melakukan ketaatan, maka lama-kelamaan akan terbiasa, bisa, biasa dan kemudiaan menjadi budaya. Dan ketika telah menjadi budaya, maka akan ada sesuatu yang mengganjal jika ditinggalkan.

Dan tentu kita harus senantiasa berusaha mengikhlaskan niat semata-mata untuk mengharap Wajah ALLAH swt. karna akan sia-sia suatu amalan tanpa dilandasi keikhlasan.

Para ulama kita mengatakan bahwa jika seseorang mengerjakan suatu ibadah agar dilihat oleh manusia atau karna ingin dipuji maka itu adalah kesyirikan. Namun jika seseorang meninggalkan ibadah karna manusia maka itu adalah riya. Dan ikhlas adalah apa yang ada diantara keduanya.

Memang terkadang perkara niat ini sering melenceng dari jalurnya, apalagi jika sudah ada yang memuji dan membangga-banggakan, lantas jika kita telah menyadarinya, maka berusahalah untuk mengembalikan niat tersebut pada jalur yang seharusnya.

Sebagian orang terkadang sangat aktif dalam bulan Ramadhan dalam hal mengerjakan amal sholeh, namun seakan lupa cara beramal sholeh diluar bulan Ramadhan.

Bisyr al-Hafi, seorang ulama shalih, suatu saat berkata, “Seburuk-buruk kaum adalah yang tidak mengenal hak ALLAH, kecuali hanya pada bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya seorang disebut shalih ketika ia beribadah dan ber-mujahadah selama setahun penuh.”

Semoga ALLAH menolong kita untuk senantiasa konsisten dalam ketaatan dan ikhlas dalam niat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here