Hasan Sijaya Paparkan Peran Perpustakaan Bagi Masyarakat dalam Seminar Implementasi Peradaban Kampus Asri UIN Alauddin Makassar

0
30
views

Apakabarkampus.com — Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulawesi Selatan Moh. Hasan Sijaya, S.H., M.H tampil sebagai salah satu pembicara dalam Seminar Implementasi Peradaban Kampus Asri yang diselenggarakan oleh Pusat Peradaban Islam Sulawesi Selatan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, secara daring, Rabu (21/10/2020).

Selain Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel, pembicara lainnya pada seminar tersebut adalah Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, S.T dan Rektor UIN Alauddin Makassar Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D dipandu moderator Dr. Supardin, M.H.I yang juga adalah Kepala Pusat Peradaban Islam LP2M UIN Alauddin Makassar.

Dalam pemaparan materinya, Kadis Hasan Sijaya menjelaskan setidaknya ada empat peran perpustakaan bagi masyarakat, pertama perpustakaan menjadikan dirinya sebagai pusat ilmu pengetahuan, pusat kegiatan masyarakat dan pelestarian budaya.

“Sebagai pusat ilmu pengetahuan, sekarang ini yang sementara kita lakukan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel terus meningkatkan kontennya, terus mengisi buku-buku yang menjadi kebutuhan baca dari para pemustaka kita khususnya bagi adik-adik mahasiswa. Kita juga saat ini terus melakukan inovasi menjadikan ruang-ruang layanan perpustakaan menjadi pusat kegiatan masyarakat, di samping itu kita juga terus menambah konten-konten lokal yang kita jadikan sebagai koleksi khusus, sebagai upaya pelestarian budaya,” jelasnya.

Ditegaskan bahwa sekarang ini perpustakaan sudah bertransformasi berinklusi sosial, sehingga tidak terbatas hanya pada ruang dan gedung saja, tidak terbatas pada ruang dan rak buku saja. Tetapi di mana ruang-ruang yang dianggap nyaman asri, itu bisa menjadi titik-titik baca yang ada.

“Kami ambil contoh, saat ini kami sementara membangun Masjid Ashabul Jannah di sampingnya kami buat space ruang baca terbuka yang asri, yang bersih, nyaman, hijau, rapi, sehingga para mahasiswa kita bisa memanfaatkan ruang tersebut sebagai pusat-pusat kegiatan,” paparnya.

Peran selanjutnya menurut mantan Staf Ahli Gubernur Sulsel Bidang Keuangan ini, perpustakaan dirancang lebih berdayaguna bagi masyarakat baik dari segi fisiknya, koleksi dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK)nya. Itulah sebabnya pada tahun 2020 DPK dalam melakukan kegiatan literasi, menumbuhkan minat baca masyarakat terus membenahi ruang layanan secara fisik di empat gedung layanan yang dimilikinya yaitu Layanan Perpustakaan Umum dan Layanan Perpustakaan Multimedia di jl. Sultan Alauddin, Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang di Sungguminasa dan Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak di Jl. Lanto Dg. Pasewang.

“Segala bentuk upaya kita lakukan untuk terus meletakkan legasi, membangun peradaban, meletakkan pewarisan makna agar supaya adik-adik kita anak-anak cucu kita, para generasi kita untuk bisa lebih giat berkunjung ke perpustakaan yang ada,” tandasnya.

Lalu poin yang ketiga, lanjut Hasan Sijaya, perpustakaan menjadikan dirinya sebagai wadah untuk menumbuhkan solusi dari permasalahan kehidupan masyarakat.

“Seperti saya katakan tadi bahwa sekarang ini perpustakaan sudah bertransformasi berinklusi sosial, apa yang dibaca itu juga yang dijabarkan. Banyak edukasi yang kita mainkan di sini,” ujarnya.

Yang keempat, perpustakaan memfasilitasi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki nya. Hasan Sijaya mencontohkan, DPK Sulsel terus memberikan wadah kepada para penulis, para budayawan kita, para seniman kita untuk lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatannya dan menjadikan ruang layanan perpustakaan ini sebagai ‘rumah’ untuk berkegiatan.

“Contoh lainnya, sebagai bentuk apresiasi kita kepada para pegiat literasi, kita selalu memberikan ruang kepada penulis untuk memperlihatkan potensinya antara lain mungkin ada buku-buku atau konten lokal yang mereka buat kita fasilitasi untuk dibedah, dan tidak tertutup kemungkinan ada adik-adik kita mahasiswa yang bisa menulis dan membuat satu buku DPK Sulsel siap memfasilitasi untuk membedahnya. Upaya ini kita lakukan untuk memperlihatkan bahwa DPK Sulsel punya gawe dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh masyarakat,” tuturnya.

Terkait dengan perpustakaan bahagian dari peradaban. Kadis DPK Sulsel ini menjelaskan bahwa, perkembangan perpustakaan tidak bisa dipisahkan dari peradaban manusia terutama di kalangan mahasiswa, karena perpustakaan itu merupakan produk dari peradaban itu sendiri. Perpustakaan menjadi sentral dari informasi tertulis dan menjadi simbol kuat terhadap peradaban. Segala macam bentuk koleksi-koleksi yang menjadi kebutuhan dunia pendidikan kita terus kita siapkan di perpustakaan.

Perpustakaan sebagai pusat peradaban terutama di kampus asri, harus beradaptasi dengan TIK yang berkembang pesat. Perpustakaan harus mengikuti perkembangan zaman, harus mengikuti apa yang menjadi keinginan mahasiswa dan apa yang menjadi keinginan anak-anak kita.

Pada bagian akhir pemaparannya Hasan Sijaya menegaskan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel dalam mencerdaskan anak bangsa tidak bisa berjalan sendiri harus bersama-sama dengan stake holder yang ada. Karena itu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel tidak akan pernah berhenti untuk bekerjasama termasuk UIN Alauddin Makassar. * (naz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here