Tips Menulis Bagi Pustakawan

0
33
views

Oleh: Heri Rusmana *

Apakabarkampus.com — Menulis bagi pustakawan merupakan salah satu butir kegiatan angka kredit (AK) yang memiliki nilai cukup tinggi. Selain itu, AK terkait tulisan, boleh dikata, sangat demokratis jika dibandingkan butir-butir kegiatan AK yang dapat dilakukan seorang pejabat fungsional pustakawan. Mengapa? Karena kegiatan menulis tidak dibatasi oleh pangkat maupun golongan jabatan pustakawan tersebut. Mulai pustakawan terampil, muda, madya, sampai utama dapat membuat tulisan di berbagai platform media.

Keterampilan Menulis
Bila dicermati, sebenarnya banyak butir kegiatan AK pustakawan yang memerlukan keterampilan menulis. Misalnya, yang paling sederhana adalah membuat anotasi, abstrak informatif, indikatif, atau membuat laporan kegiatan. Untuk membuat tulisan-tulisan itu, memerlukan pemikiran yang harus ditunjang data dan referensi, layaknya menulis laporan karya ilmiah.

Sayangnya, kegiatan menulis ini jarang dilakukan oleh pustakawan meski keseharian aktivitasnya dikelilingi buku-buku. Bahkan, bisa jadi, ada pustakawan yang belum pernah menulis sama sekali. Alasannya, bisa karena malas, tidak punya motivasi, atau mungkin juga tidak tahu harus menulis apa dan dimulai dari mana.

Apabila alasan yang terakhir menjadi penyebab dan kendalanya, maka perlu dicarikan solusinya. Karena sejatinya, pustawanlah yang berada pada garda depan gerakan literasi. Bukan hanya mendorong orang untuk membaca dan berkunjung ke perpustakaan. Tapi lebih dari itu mengajak orang menulis dan memberi contoh tentang pentingnya menuangkan pikiran, pandangan, dan gagasan dalam bentuk tulisan.

Tips Menulis
Berikut ada beberapa tips menulis yang penulis peroleh saat mengikuti Sekolah Menulis, yang diadakan oleh Komunitas Anak Pelangi (K-apel). Tips ini dibagikan oleh Rusdin Tompo, seorang penulis dan editor buku, yang tampil sebagai narasumber pada acara tersebut.

Pertama, modifikasi tulisan. Pada tahap belajar, ingatlah ATM (amati, tiru, modifikasi). Tapi tetap jaga keaslian tulisan, dengan memberi sudut pandang yang berbeda. Misalnya, ketika kita membaca tulisan “Layanan perpustakaan sekolah di SMK 2 Kota Makassar”. Maka kita jadikan tulisan itu sebagai inspirasi dengan memodifikasi menjadi tulisan dengan judul “Layanan perpustakaan sekolah di SMAN 1 Gowa”. Tapi tentu isi tulisannya tidak sama karena pastinya data yang dilaporkan akan berbeda.

Kedua, tujuan. Sebagai pustakawan kegiatan menulis pastinya ada tujuan yang ingin dicapai, yaitu memperolehan angka kredit, menyebarkan pengetahuan dan pengalaman seputar pengelolaan perpustakaan, serta bentuk tanggung jawab sebagai profesi pustakawan.

Ketiga, tulislah yang kita kuasai. Bagi yang bekerja di bagian pengolahan bahan pustaka, bisa menulis permasalahan terkait pengklasifikasian bahan pustaka untuk subyek tertentu.

Keempat, jangan menunda menulis. Jika ada gagasan yang ingin disampaikan, tulislah! Persoalan data dan referensi bisa menyusul kemudian.

Kelima, motivasi dan komitmen. Katakan pada diri kita bahwa saya bisa menulis. Motivasi ini bisa datang dari luar dan dari diri sendiri. Tanpa ada dorongan dari diri sendiri akan menghambat kita untuk menulis. Camkan, setiap orang punya potensi menulis.

Keenam, membaca. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan ide tulisan dan menambah kosa kata dalam tulisan.

Ketujuh kolaborasi. Kerja sama dalam aktivitas menulis dengan teman seprofesi bisa dilakukan, baik dalam bentuk sharing ide, diskusi untuk menambah wawasan menulis, maupun mengkrtisi draft tulisan yang sudah dibuat. Tidak ada salahnya, dalam tahap belajar, kita menggandeng seorang editor yang sudah berpengalaman menulis untuk merapikan tulisan kita.

Itulah beberapa tips menulis yang bisa dipraktikkan pustakawan. Semoga bermanfaat.(*)

Makassar, 29 Oktober 2020

*Penulis: Heri Rusmana (Pustakawan Madya pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here