Arsipna Keluarga Sulsel, Gugah Kesadaran Kearsipan Masyarakat

0
106
views

Oleh: Irzal Narsir *

PENDAHULUAN

Tak ada satupun manusia yang tidak memiliki arsip, ini ungkapan rill dan bijak bahwa sebuah keniscayaan manusia itu memiliki informasi yang tercatat yang melekat pada dirinya saat mulai lahir berproses hingga meninggalnya nanti, bahkan tak tertutup kemungkinan saat bertahun-tahun setelah ketiadaan manusia tersebut, informasi tentangnya tak akan mati, akan terus hidup dan lestari yang dibuktikan dengan informasi yang tercatat ataupun tercetak yang melekat pada arsip.

Sejarah pun membuktikan bahwa arsip menjadi indikator peradaban sebuah bangsa dahulu dan sekarang, arsip menjadi sebuah narasi dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, arsip bukan hanya bernilai keekonomian dan hukum (Nilai Guna Primer) tetapi arsip pun bernilai History (Nilai Guna Sekunder). Dalam konteks kelembagaan, ilmu pengetahuan dan penerapannya, kearsipan memiliki usia tertua karena telah ada sejak zaman lampau bahkan mulai zaman sebelum Masehi kelembagaan ini telah berdiri di Yunani, Mesir, Babylonia, dan beberapa Bangsa lainnnya, sementara Prancis adalah negara yang mempelopori kelembagaan di zaman modern, setelah merdeka, Indonesia pun membentuk kelembagaan kearsipan. Sebuah kesadaran kearsipan yang baik karena mereka beranggapan bahwa Manusia ataupun sebuah Bangsa ada masanya, sementara arsip akan terus hidup menjadi pusat ingatan, menjaga peradaban dari generasi ke generasi.

ARSIP ERA KENORMALAN BARU

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan telah mengatur secara jelas akan pentingnya arsip bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tak di nafikan arsip menciptakan keteraturan administrasi yang bermuara pada akuntabilitas organisasi. Bahkan dalam UU Kearsipan ini pun telah menyesuaikan kondisi kekinian yang pro terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi karena sangat disadari di era kekinian wajib hukumnya memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Bukan sebuah hal yang bertolak belakang karena arsip berisi informasi, dan sudah barang tentu menyesuaikan dengan teknologi informasi dan komunikasi.

Tatanan Baru pada trend Corona saat ini telah berimplikasi pada segala bidang tak terkecuali pada bidang kearsipan, hal ini merubah pola pola pendekatan kearsipan yang sebelumnya konvensional dan Semi IT, menjadi Pro IT. Pada prinsipnya bagi Lembaga Kearsipan bukanlah hal yang baru karena IT telah terakomodir didalam UU Kearsipan hanya saja belum diterapkan secara baik dan efektif. Untuk itulah tetap membutuhkan adaptasi yang super cepat dalam mengantisipasi dampak trend Covid 19 ini, baik dari segi kelembagaan, regulasi dan yang lebih penting adalah sumber daya manusia yang cakap dan menguasai IT secara baik dan profesional.

Aktivitas perkantoran tidak seperti yang lalu bahwa harus dan wajib dilaksanakan di kantor (Work From Office), melainkan telah memberikan kesempatan bahkan keleluasaan untuk bekerja dari rumah (Work From Home) tanda kutip memiliki kecakapan dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.Suka ataupun tidak suka, senang ataupun tidak inilah cara kerja baru di Era tatanan kenormalan baru, ya keren lah.

KESADARAN KEARSIPAN MASYARAKAT SULAWESI SELATAN

Terwujudnya kesadaran masyarakat akan arsip berdampak besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jati diri dan identitas bangsa ini tidak akan pernah hilang sampai ke generasi kapanpun serta persatuan dan kesatuan akan terus terjalin karena arsip merupakan simpul
pemersatu bangsa. Salah satu cara dalam menggugah kesadaran kearsipan masyarakat adalah dengan melakukan pendekatan teoritis dan teknis untuk membentuk karakter kearsipan yang mumpuni dan paham arsip.

Regulasi kearsipan di negeri ini sudah sangat baik dan komplit, seharusnya berbanding lurus dengan perilaku kearsipan yang baik pula, ternyata hal ini belum dapat terwujud diakibatkan sebagian besar masyarakat masih menganggap pengelolaan arsip sebagai hal-hal yang biasa biasa saja sehingga cara penyimpanan arsip mereka pun cenderung tradisional padahal tanpa disadarinya akan berakibat fatal jika tak dikelola dengan baik, arsip tersebut akan rusak dan hilang.

Kondisi geografis Sulawesi Selatan menunjukkan keadaan yang mengarah kepada keadaan yang bisa mengganggu kelangsungan hidup arsip yang dimiliki masyarakat. Sebut saja Bencana Banjir, Longsor, kebakaran, dan lainnya yang hampir setiap tahun terjadi. Hal ini menimbulkan kerugian yang tidak sedikit terlebih lagi merusak bahkan arsip yang dimilikinya. Karena masalah inilah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Lembaga Kearsipan Sulawesi Selatan terus menggaungkan penyelamatan arsip dengan cara merestorasi arsip yang ada di Kabupaten/Kota terdampak Bencana . Untuk menciptakan kesadaran kearsipan masyarakat, butuh campur tangan Pemerintah dalam merubah mindset masyarakat terkait kearsipan.

ARSIPNA KELUARGA SULSEL

Tak henti tuk terus bekerja dalam rangka penyelamatan arsip masyarakat Sulawesi Selatan dan mengembangkan kearsipan sebagai jati diri daerah dan bangsa, sosok Hasan Sijaya selaku Pimpinan Lembaga Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan menggagas sebuah terobosan baru dalam mengamankan arsip arsip milik masyarakat Sulawesi Selatan dalam sebuah sistem aplikasi yang kreatif dan inovatif yang diberi nama ARSIPNA KELUARGA SULSEL.

Aplikasi ini adalah tindakan solutif yang akan memberikan rasa aman kepada masyarakat Sulawesi Selatan dalam merawat arsip yang dimilikinya serta bukti tanggungjawab pemerintah dalam mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelamatan arsip dan lebih penting lagi menggugah kesadaran kearsipan masyarakat Sulawesi Selatan untuk turut mewujudkan kearsipan yang lebih smart, lebih aman dan lebih profesional. Semoga….!!! Bravo ARSIPNA SULSEL

*PENULIS:
IRZAL NATSIR
ARSIPARIS MADYA
SULAWESI SELATAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here