Literasi, Pendidikan dan Budaya Hidup Normal

0
32
views

Oleh : Bachtiar Adnan Kusuma *

Apakabarkampus.com — Pada akhir 2019 dunia heboh akibat munculnya wabah dunia bernama virus Corona. Pertamakali saya mendengar tentang wabah Virus Corona ini muncul di Wuhan dan menyebar serta menjangkiti warga di sana. Saya memeroleh informasi dari dua orang ponakan saya yang belajar di Fakultas Kedokteran Wuhan, Cina, Nabila dan Syarifah.

Begitu dahsyatnya, cerita tentang proses penyebaran virus corona begitu cepat dan masuk ke Indonesia pada awal 2020. Tak bisa disangkal bahwa akibat dari pandemi Covid 19, telah memberikan perubahan radikal terhadap proses belajar mengajar mulai dari pelajar di usia sekolah sampai pada Perguruan Tinggi.

Proses pendidikan di kelas yang selama ini berlangsung efektif efektif pihak institusi pendidikan yang bernama sekolah, segera didorong melakukan perubahan radikal terhadap implementasi teknologi pendidikan dalam waktu singkat. Otonomi sekolah kembali ke tangan orang tua di rumah. Dan, kaum ibu yang paling aktif dan merasakan betul bagaimana suka dan duka belajar online di rumah sembari mendampingi putra-putrinya. Ironisnya, institusi pendidikan termasuk perangkatnya belumlah siap, apalagi proses otonomipendidikan kembali ke tangan orang tua di rumah belum siap. Selain karena tidak dipersiapkan menghadapi pandemi covid 19, juga sistem pembelajaran biosfa personalisasi belum menjadi budaya yang begitu memassal.

Pada sisi lain, masyarakat belum memahami betul tentang sains, tidak peduli dengan pemahaman tentang perbedaan virus bakteri, bakteri anti bodi, DNA RNA. Istilah-istilah kesehatan inilah yang belum melekat baik dalam diri masyarakat kita. Selain karena kurangnya pengetahuan tentang virus, juga masih sangat terbatasnya informasi yang akurat tentang virus-vurus tersebut.

Saya ingin menegaskan kalau literasi sains kita masih sangat lemah. Mengapa terjadi penyebaran begitu dahsyat virus covid 19 karena rendahnya angkat literasi sains masyarakatyang membuat mereka tidak mengetahui istilah-istilah virus tersebut. Ketidaktahuan dan ketidakmpampuan memahami istilah-istilah biologi, medis dan epidemologis merupakan sesuatu yang sifatnya penting. Sementara untuk mencegah penyebaran virus dibutuhkan kesadaran memassal bahwa betapa berbahayanya virus covid 19 yang bisa menyebabkan kematian.

Literasi kita di Masa Covid 19?

Apapun kata dunia, kita semua dituntut melakukan perubahan radikal dan segera mempersiapkan diri menghadapi covid 19 ini. Dari data OECD hanya 34 persen masyarakat Indonesia yang memiliki komputer guna mendukung pelaksanaan pendidikan berbasis online.Sementara siswa dituntut belajar mandiri yang selama ini menegaskan kalau siswa bukan hanya belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan, tapi keterampilan, sikap dan nilai yang mampu menjadikan mereka membentuk citra dirinya agar bisa menjadi pribadi yang mampuberkompetesi di masyarakat global.

Gerakan literasi pasca Covid 19 haruslah mampu pada bidang matematis, sains, digital,financial adalah perlu sikap dan keterampilan berpikir kritis, kreatif dan menimbulkan rasaingin tahu. Tantangannya untuk melakukan perubahan radikal dan spontan diperlukan,sementara fasilitas pendidikan masih sangat terbatas yang dimiliki oleh masyarakat pelajar kita. Sesuai data OECD 34 persen masyarakat Indonesia yang memiliki komputer untukmenunjang kebutuhan pendidikan.Angka IPM kita masih 29 menunjukkan sulit kita bersaing dengan pertumbuhan IPM sebesar1, 25 persen pada 2019. Pada sisi lain, kesenjangan belajar ekonomi yang rentan dan masihpas-pasan.Literasi kita mengalami kesulitan dalam membaca di tengah pandemi karena tingkat korelasinya tinggi antara pandemi dan budaya literasi kita. Akibatnya, masyarakat suka nonton hiburan daripada membaca. Alasannya, selain karena tingkat kecemasan yang tinggi akibat pandemi yang begitu dahsyat membunuh manusia, satu-satunya cara adalah menghibur diri agar tidak memikirkan betapa banyak orang meninggal dunia karena pandemi.Karena itu, literasi pasca pandemi dibutuhkan literasi melek teknologi.

Menurut saya kedepan, dibutuhkan kemampuan dan keterampilan memanfaatkan teknologi daring terutama terkait dengan literasi membaca, literasi sains, literasi pada bidang lainnya.

Karenanya,dibutuhkan kemampuan dan keterampilan menyesuaikan diri bahwa literasi pasca covid 19 dibutuhkan literasi yang membumi. Membaca dan menulis adalah salah satu refleksi literasi edukasi yang membangun budaya kolosal membaca secara terus menerus. Selain itu, budaya literasi kesehatan merupakan kemampuan seseorang untuk membaca,memahami dan memanfaatkan informasi kesehatan yang tepat.

Di tengah masa pandemi ini,literasi kesehatan sangatlah penting terutama memberikan edukasi masyarakat tentang bahaya dari virus corona. Banyak hal hikmah yang bisa kita tarik bahwa dengan pandemi covid 19,masyarakat dituntut membangun budaya kolosal kesehatan. Budaya hdup bersih secara terusmenerus budaya cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker adalah budaya kesehatan hidup baru.

*Bachtiar Adnan Kusuma, Tokoh Literasi Sulsel, Narasumber Roadshow Minat Baca Perpustakaan Arsip Provinsi Sulsel, Rabu (25/11) di Hotel Artama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here