Menjaga Arsip, Menjaga Marwah Kemerdekaan

0
78
views

Oleh: IRZAL NATSIR, SE  M.SI *

Apakabarkampus.com — Beberapa hari lagi kita akan kembali memperingati Hari Kemerdekaan Negara yang kita cintai ini, Republik Indonesia yang ke 76 Tahun. Bila dibaratkan manusia, mencapai usia yang telah melebihi 70 tahun ini adalah sebuah anugerah. Secara positif  pada level usia ini kita telah masuk dalam tataran sifat dan karakter yang sangat bijaksana, penuh pengalaman  dan yang lebih utama telah matang dalam kedewasaan. Walaupun harus diakui pula sisi lainnya kita sadar pada usia tersebut sudah barang  tentu usia yang secara fisik memasuki kerentaan, kepikunan,  sakit-sakitan, lemah dan  tak kuat lagi.  Tetapi tak sedikit pula yang masih kuat,  dapat berdiri kokoh, memiliki fisik  seperti pemuda, penuh semangat dan tak kenal lelah. Analogisnya  dalam sebuah institusi kenegaraan sebesar negara kita menunjukkan sebuah realita kenegaraan yang terjadi disetiap negara manapun dalam bentuk apapun negara itu terdapat tantangan, ancaman yang terjadi pada setiap perjalanannya dan pasti akan membentuk diorama perjalanan bangsa dimasa mendatang.

Kronologis perjalanan bangsa kita yang besar dan luar biasa ini memanglah panjang membentuk informasi bangsa yang kompleks dan telah tercatat pada arsip, baik lembar demi lembar, episode demi episode, generasi demi generasi, era demi era, dan pemimpin demi pemimpin, bahkan dapat dikatakan, tak ada satupun yang tidak tercatat. Realita informasi ini menunjukkan bahwa peradaban Indonesia adalah sebuah peradaban yang tinggi dan cerdas, karena kompleksitas informasinya telah lekat dan menempel pada dinding lembaran kertas yang sampai saat ini masih dirawat dan dijaga oleh negara dan bangsa sebagsi legacy informasi yang tulus untuk para  generasi penerus dan pelanjut perjuangan bangsa ini kedepan  demi menjaga keluhuran bangsa yang terkenal dengan kebhinekaannya ini.

Dalam sebuah momen pertemuan bangsa pada orde lama,  Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno pernah membakar semangat bangsa dengan memekikkan “JAS MERAH” yang merupakan kependekkan dari kalimat “Jangan sekali-kali melupakan Sejarah”. Lontaran kata yang sampai saat ini terus terngiang di hati dan telinga kita ini karena  secara fisik dan informasi telah terdokumentasi dengan tertib dan apik serta menjadi rekaman peristiwa heroik bangsa ini yang sudah pastinya tercatat dalam lembaran arsip. Harus diakui nasionalism perkataan jas merah ini sebuah hal yang hebat karena dengan tegas dan penuh semangat  keluar dari mulut seorang Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi Angkatan Perang yang saat itu menjadi Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang disegani oleh bangsa lain di dunia. Hal inipun menjadi bukti bahwa Indonesia adalah negara besar yang bukan hanya besar dalam luas wilayah ataupun jumlah penduduknya tetapi lebih dari itu, memiliki semangat dan daya juang yang besar dan  sejarah pun yang terkandung didalam arsip itu membesarkannya tanpa memanjakannya dan telah melewati sekelumit ujian dan cobaan berat bernegara dengan pengorbanan darah dan air mata serta kisah-kisah heroik taruhan jutaan nyawa. Yang membuat haru kita semua kisah-kisah ini seakan tak terputus karena masalah yang suistnable terus saja menerpa dan mendera negara berjuluk jamrud khatulistiwa ini bahkan saat ini melakukan perjuangan super berat melawan makhluk yang tak kasat mata bernama corona.

Kemerdekaan yang diraih negeri kita bukanlah sebuah hadiah, bukan pula sebuah free ticket yang diberikan penjajah ataupun pemberian atas dasar rasa kasihan negara ataupun bangsa lain tetapi sebuah monumen raksasa yang  dibuat dan diraih dari  kolaburasi dan strategi para pejuang bangsa ini hingga sampai pada pernyataan kemerdekaan yang tertulis indah pada teks singkat Proklamasi yang ditandatangani dwi tunggal pendiri bangsa ini Soekarno Hatta pada lembaran kertas tunggal yang telah usang yang sampai saat ini tetap aman disimpan  dirawat seiring eksistensi keberadaan NKRI dan menjadi bukti otentik kemerdekaan negara kita. Jejak jejak tertulis perjuangan pun terekam jelas dalam fisik kertas yang memberkas serta tersimpan dan tertata rapi pada  setiap Lembaga  Kearsipan di Indonesia bahkan dilindungi dengan regulasi yang bernama Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan. Bila ditelaah ecara positive, arsip bersifat obyektif bukan subyektif, arsip seyogyanya tidak terintervensi melainkan teradaptasi dengan kondisi saat arsip itu tercipta. Dan pada akhirnya menjadi sebuah kebanggaan bagi bangsa ini karena memiliki memori kolektif yang tercatat didalam arsip yang tak akan berhenti secara terus menerus menjadi pusat ingatan yang tak akan pikun, sumber informasi hari kemarin, sekarang dan akan datang, menjadi jati diri bangsa, dan pada akhirnya segala penyakit bangsa, keretakan yang terjadi yang  dapat berujung pada kehancuran bangsa ini, step by step dipersatukan kembali dari simpul simpul informasi yang terkandung didalam arsip tersebut. Maka dengan merawat arsip berarti kita turut menjaga peradaban bangsa ini, dan Insya Allah kitapun menjaga dan merawat kemerdekaan Indonesia. Dirgahayu Indonesia Raya ke 76, Tangguh, sembuh dan Tumbuhlah Indonesiaku. (*)

*Penulis: IRZAL NATSIR, SE  M.SI
Arsiparis Ahli Madya Pemprov. Sulawesi Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here